Yang Terampas dan yang Putus (Puisi Petunjuk Kematian Chairil Anwar)

Yang Terampas dan yang Putus

Oleh: Chairil Anwar

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru
dingin

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau
datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa
berlaku beku

1949


Kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw menyebutkan bahwa Chairil Anwar telah menyadari akan mati muda, seperti tema menyerah yang terdapat dalam puisi berjudul “Jang Terampas Dan Jang Putus“.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *