Taiwan Literature Awards of Migrant 2018: Menjadi Manusia Karena Kuat

Awards of Migrant

“Layakkah hidup yang datang dan pergi sempurna sewenang-wenang itu dijalani? Apa yang absurd adalah konfrontasi antara (dunia) yang irasional dan kerinduan hebat akan keselasan yang mengeluarkannya menggema di kedalaman hati manusia…. Perjuangan menuju puncak itu sendiri, sudah cukup mengisi hati manusia; orang harus berbagi Sisyphus bahagia ”Albert Camus, Le Mythe de Sisyphe (Mitos Sisyphus, 1947).

Mengalami “Dunia Absurditas,” yang dapat saya kumpulkan 165 naskah dari para pekerja Migran Indonesia dalam lomba Penghargaan Sastra Migran (Penghargaan Sastra Taiwan tentang Migran 2018) . Sungguh, Menyampaikan 165 naskah ini masuk.

Penghargaan Migran

Penghargaan Migran

Jujur, saya terharu, dada saya ringkas dan lancar. Saya mencium mereka serupa “Syshipus”. Manusia yang harus bekerja tak henti-hentinya menggulirkan batu ke puncak gunung dan kembali batu itu jatuh ke bebannya. Sebuah rutinitas hidup yang menyakitkan.

Hampir sebagian besar naskah ini memanggil hidup dengan penderitaan dan luka. Memang terasa aneh dan tak masuk akal. Anda tidak memiliki pilihan lain selain ” c’est la vie ” idiom Prancis yang bermakna “Komputasi Kehidupan” Suatu istilah yang cocok untuk orang-orang yang pernah bekerja Migran Indonesia. Ungkapan untuk menyatakan bahwa hidup itu keras, namun harus dijalani.

Apakah Anda menganut fase kehidupan sebagai Sysiphus yang mereka jalani. Namun di balik kisah-kisah kehidupan yang kompleks dan paradoks, ada sebuah pengecualian. Bila mitologi Sysipus karena kutukan dewa, namun dalam kisah-kisah ini mereka tidak hanya berpangku tangan menerima nasib. Sebagian besar naskah menyiratkan perjuangan. Merawat harapan, strategi hidup dan kekuatan besar. Mereka berani menantang hidup di negeri perantauan dengan heroik. Mereka yang membuat mereka menjadi “Sysiphus yang bahagia.” Mitos menyanyikan teladan yang di balik kenyerian yang lengkap dengan kelahiran dengan suka cita kehidupan.

Setelah membaca 165 naskah, saya memutuskan memilih 21 naskah terbaik dan kemudian saya saring menjadi 10 naskah terbaik. Pilihan yang sulit karena setiap naskah menyimpan kisah yang menggunakan materi yang otentik, sebuah kehidupan yang tidak dapat tergantikan oleh manusia lainnya.

Saya memilih naskah terbaik tidak dari ukuran “Kisah mana yang paling parah?” Namun dari kerasnya kuat “ruh / jiwa” dalam tulisan itu, otentisitas dan kejujuran penulis, kemampuan mereka untuk membaca buku-buku yang menarik, metafora yang kuat, eksistensi kemanusian antar orang yang tinggi dan setiap tulisan yang berisi “peristiwa-peristiwa” untuk mampu mengolah sesuatu menjadi tantangan hidup dan mengalir harapan.

Setelah saya membaca keseluruhan naskah, saya memiliki kesimpulan sederhana yang disebut manusia bukan hanya karena kita memiliki “akal pikiran” tetapi individu yang disebut manusia karena memiliki “kekuatan”.

Saya tidak bisa memungkiri dengan latar belakang saya di bidang teater dan antropologi. Penilaian saya yang paling penting dari dua hal yaitu “peristiwa” yang menjadi bahasa dalam proyek dan detik adalah “manusiawi”. Kedua hal ini yang akan saya angkat dalam tulisan dalam uraian naskah-naskah ini.

Bisnis migrasi global dan bekerja sebagai strategi bertahan hidup

Di bawah ini adalah makna sebagai aktualisasi diri seseorang sebagai Nilai kebergunaanya sebagai manusia. Pekerjaan adalah cara sendiri dia dan kemanusiaanya. Sebelumnya, manusia sudah memiliki pandangan, bahwa kerja adalah sesuatu yang suci. Bekerja adalah bentuk pencarian dari Tuhan. Jadi pengabdian, apapun bentuknya, dan semua itu layak untuk mendapatkan penghormatan.

Ada banyak sebab orang yang melakukan migrasi, yang merupakan karena pekerjaan dalam rangka mencari penghidupan yang layak. Hampir semua bagian yang dibaca oleh pekerja migran Indonesia (PMI) terutama wanita mengatakan, membuat mereka memutuskan untuk melakukan pekerjaan sebagai “pahlawan” agar bayi dan orang lain dapat keluar dari jaring kemiskinan. Sebuah tugas suci sebagai manusia.

Saya menemukan beberapa fakta yang disebut mereka dalam bisnis global ini tidak hanya menghidupi keluarga namun menghidupi banyak orang di dalam mata rantai yang kompleks. Dikirim oleh pialang di kampung, perusahaan pengerah tenaga kerja / agen di negara Indonesia dan negara tujuan, dokter yang memeriksa kesehatan, pelatihan kerja balai, biro perjalanan, industri penerbangan, pemerintah sebagai devisa negara, terutama “pengusaha” yang mendapat jasa mereka tahun-tahun .

Kisah-kisah mereka mengungkapkan kami tentang mata rantai bisnis global yang di mana negara-negara yang lebih sejahtera dalam ekonomi seperti Arab Saudi, Taiwan, Hongkong menjadi “tanah harapan”, mereka membutuhkan tenaga kerja yang murah untuk mewujudkan proyek-proyek domestik. Di sisi lain, dari keseluruhan naskah yang saya baca, fenomena global ini sangat berwajah wanita karena kebanyakan para PMI adalah perempuan. Mari satu persatu kita menyisir bisnis mata rantai migrasi global ini.

Keluarga dan lingkaran kemiskinan

Merubah hidup, dalam arti kondisi material pekerja migran dan keluarga, adalah tujuan mereka merantau menjadi PMI. Mereka bermimpi dapat memperbaharui rumah, membeli sawah, memiliki rumah permanen, membuat sekolah bagi anak, pembelian kendaran, memulai bisnis, membuka warung adalah segelintir dan tujuan perjalanan mereka yang penuh risiko. Bagi mereka yang berhasil merantau, tentu saja akan lebih baik lagi.

Kisah tokoh bernama Nuri dalam naskah “Pucuk-Pucuk Rindu” merefleksikan aliran keluarga. Bekerja sebagai pemulung dan lingkaran penarik becak, ditambah satu-satunya yang menikah di pekan muda sebagai pemulung. Di masa kecilnya, Nuri tidak hanya membantu ibu, namun ia juga menjadi pengamen dan menyerahkan tubuh ke lelaki iseng di semak-semak atau losmen murahan. Masa kecil untuk tumbuh besar, tidak ada rasa enak yang dialaminya. Ia juga dengan lingkaran orang yang membuat dirinya berani merantau ke Taipei sebagai PMI.

Kekuatan tulisan dalam naskah ini adalah refleksi dari dua hubungan dan dua keluarga dalam relasi anak dan ibu. Satu sisi saling bercermin. Lewat pengalaman sebagai guru yang mengatakan. Cerita masa lalu dan anggapannya yang buruk terhadap kondisi emosional berubah dan digantikan oleh matang masa kini dari pengalamannya mengurus nenek.

Demikian pula dengan naskah “Adelina, Deritamu adalah Deritaku Jua”, tokoh Erwiana Sulistyaningsih, seorang laki-laki bujang ide 26 tahun dari Ngawi, Jawa TImur dengan tulisan yang menceritakan lulusan yang hanya lulusan Sekolah Dasar sebagai tenaga tani di kelapa sawit, tukang batu dan buruh serabutan. Sedangkan ibu, bekerja sebagai buruh perusahaan konveksi hingga menjadi TKI ke Brunei Darussalam.

Erwiana yang cerdas dan sering juara kelas itu memang merdeka ke Jakarta menjadi TKI ke Hongkong. Tanah yang sehat seperti itulah yang akan mengubah nasib dan memperburuk nasib. Ia disiksa. 20 jam lebih dan tanpa makanan. Ia dipulangkan dengan wajah hancur dan sekujur tubuh penuh luka.

Penderitaan tidak bisa menyerah, saya memperjuangkan badan bersama teman-teman senasibnya dan berhasil memenjarakan majikan yang keji. Melalui kisah Erwiana, saya melihat bahwa ada juga peran dalam sejarah. Dengan adanya pengalaman tersebut akan muncul kesadaran akan perlunya perlindung dunia dan perjuangan keadilan seluruhnya. Dari kesadaran ini akan lahir berbagai usaha teoretis dan praktis. Tidak akan ada ide untuk mengatur kehidupan bersama yang damai, jika tidak ada ketidakadilan. Dan hanya orang-orang terpilih yang bisa memperjuangkannya.

Kedua tulisan ini berasal dari asal usul sebagai daya dorong merantau, namun memiliki beberapa dari pengobatan majikan. Namun, keduanya memiliki akhir yang indah. Relasi antar manusia antara PMI dan desa menjadi cerita yang menarik. Nuri belajar tentang cinta dari nenek tentang merawat hubungan anak dan orang tua. Tulisan yang mengalir dengan indah dan menyiratkan rindu yang di dalam hanya memungkinkan sebuah metafora “Chou Tofu” namun mampu mengubah rasa cintanya yang semakin besar pada mama dan mewujudkan yang nenek.

Sedangkan Erwiana, menjadikan penderitaannya selama 8 bulan di Hongkong sebagai pemicu tidak hanya untuk sementara waktu Adelina Sau, PMI asal Nusa Tenggara Timur yang meninggal karena pemeriksaan. Erwiana yang penuh keberanian, harapan dan kritis dalam mengolah rasa nyerinya menjadi kekuatan.

Penampilan dan aktivitas orang-orang di penampungan

“Jika hari Anda dapati sebuah Bangunan berdiri megah, berpagar tinggi sekali dan sempurna setiap hari terkunci. Itulah penampungan. Di sana, bisa kau dapati perempuan-perempuan seperti Jumilah. Berhati baja, punya tekad sekeras karang. Berjuta Besar di negeri ini. Menunggu untuk keluar dengan sukarela dari negerinya. Meski demikian pahit, separuh hati mereka tetaplah tinggal di kampung halaman. Lagu kebanggaannya tetaplah Indonesia Raya ”

Semua Pekerja Migran Indonesia pasti akan melewati balai penampungan. Kisah dalam cerita “Orang-orang penampungan”. Persfektif lain tentang penampungan TKI yang bukan hanya praktik balai saja. Cerita refleksi penampungan ini sangat menggugah dan membuka mata tentang bagaimana menyakiti mereka untuk menunggu, belajar, berlatih dan sembari membersihkan harapan. Naskah ini juga menjelaskan relasi antara penampungan, PJTKI dan TKI sebagai ruang yang memungkinkan untuk dikerjakan sebelum berangkat ke luar negeri. Alur cerita mengalir sangat halus namun dalam. Dialog-dialog yang polos, memucat yang paling menarik tapi sangat bersabar di penampungan.

PJTKI dan Agency

“Hari itu aku diantarkan ke rumah dinas kaburan di daerah shin chu. Rumah itu oleh wanita-wanita, yang berstatus ilegal dari berbagai negara. Aku akan menemukan kamar paling ujung dilantai dua dan dikunci disana, setelah sebelumnya ponselku disita bos agensi kaburan itu. Sudah ada satu wanita cantik didalam kamar, namanya Cindi, orang Indonesia. Jika saya masuk, ia menangis histeris. Dari situlah aku mendapatkan informasi yang nyata. Tidak ada lowongan kerja seperti yang ditawarkan. Yang ada adalah kami semua akan di tempat-tempat hiburan malam, dan kamar ini adalah penjara untuk mereka yang menolak dan orang baru sepertiku ”

Pada drama “ICe’cream”, tokoh Annie menjadi salah seorang PMI yang terjebak dalam kasus perdagangan perempuan namun dengan kecerdasan dan kekuatannya, ia berhasil kabur. Melalui kisah ICe’cream, saya menemukan masalah-masalah yang mendatangkan para PMI dalam beberapa tahap, yaitu proses rekuitmen, pra-pemberangkatan, penempatan negara tujuan hingga pulang ke kampung halaman.

Tidak semua PMI beruntung, banyak PMI yang juga kabur-kaburan seperti Annie dan ditunda dengan agen yang ilegal. Badan agensi yang legal juga hanya ingin mencari orang yang aman, berpihak dan mendapatkan keuntungan. Diawali dengan pemalsuan identitas dan dokumen dan juga proses menjadi PMI, namun ada harga mahal yang harus dibayar. Keluhan PMI dengan ketidakjelasan kontrak, jeratan kewajiban agensi, penyidik ​​dari fisik, psikologis dan minimnya akses PMI pada terbatasnya frekuensi hukum. Keberadaan agensi seperti tangan Tuhan, tetapi pada kenyatannya, mereka sebagai manusia sebagai modus untuk perdagangan.

Pada kasus lain, kisah “Amoy dan Sebuah Rahasia yang Akhirnya Terungkap” tentang kasus perdagangan perempuan dengan modus “pengantin asing,” Tokoh A’Lin yang Berakibat berat, menemukan jalan keluar dengan bunuh diri.

Majikan

Di negara maju seperti Arab Saudi, Taiwan dan Hongkong, peran para pekerja yang diperlukan untuk melihat peran-peran tradisional dalam keluarga dan lembaga masyarakat seperti Rumah Sakit, Rumah Jompo dan sektor pekerjaan lainnya. Pada saat yang tepat untuk menjadi yang paling nyata pada saat itu, maka pada saat itu akan menjadi seperti yang Anda inginkan.

Kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi di negara penerima dan keluarga hanya bisa ditelan sendiri. Masalah-masalah tersebut meliputi hak-hak pekerja, pekerjaan yang tidak aman, kekerasan fisik, psikologis dan seksi, dikurung, tidak ada waktu istirahat, benturan budaya, unlimitednya atau tidak ada waktu sholat, tuduhan majikan, jeratan kewajiban, gaji tidak dibayar, permotongan gaji, hingga dipenjara.

Sebagian besar naskah yang saya baca tentang masalah tersebut. Terutama dalam naskah “Luka itu masih di tubuhku” Rubi mengisahkan refleksi dengan tulisan yang kuat sekuat kepribadiannya. Naskah ini memiliki kekuatan bahasa sastra yang sangat baik. Ia ahli meramu metafora dengan ukuran yang pas untuk mengisahkan kembali luka ingatan kekejaman dan pemerkosaan di masa lalunya di Arab Saudi. Luka di tubuh telah hilang namun memori-memori itu masih rapi sebagai luka ingatan yang tak kunjung sembuh. Kekuatan yang lain pada naskah ini juga terlihat pada para pekerja perempuan. Masa lalunya adalah reflektif dengan menciptakan dan menjadi aktivis pada pekerja migran yang juga seperti kekejaman.

Selanjutnya, pada naskah “Muara Hati Sang Novelis, Formosa” ia menulis kisahnya berganti-ganti majikan, kasus yang dialaminya dari tuan yang hampir memperkosa sampai nenek yang memfasilitas memarahi dan menuduhnya macam-macam. Pengalamannya selama di Taiwan menjadi bahan untuk menulis dan membuktikan bahwa kisah dapat menjadi novel.

Penjara menjadi salah satu tempat yang harus didiami membuat hubungan antara majikan dan PMI berujung pada tragedi. Tapi, saya hanya percaya, selalu ada alasan seseorang untuk melawan harga sebagai manusia sudah dirampas.

Serupa tulisan tangan dalam naskah “Suara Hati” dari perkampungan zona damai sebagai sebuah metafora untuk “penjara” yang ditulis oleh Adi. Kisah ini sangat mengharukan. Semenjak awal, tulisan ini telah menarik saya untuk mengetahui ruang di mana manusia harus belajar untuk menerima, berbicara dan menebusun masa lalunya. Dengan kebebasan yang baik, Adi mampu merefleksikan rasa ketidakbergunaan, kesepian, aktivitas yang rutin di penjara yang berakumulasi dengan harapan.

Semu, pada beberapa naskah, relasi antara majikan dan PMI begitu intim, dekat, hangat serupa keluarga. Pada naskah “Tentang Cinta” sebagai tulisan yang mengharukan tentang ikatan cinta bibi dan Memei hingga 9 tahun kebersamaannya dan lebih. Bukan karena materi dan relasi majikan dan TKI, namun cinta yang mengikatnya begitu kuat. Refleksi perusahaan yang baik juga dapat diceritakan melalui dialog-dialog yang mengharukan dan sarat makna juga disampaikan dengan bahasa yang mengalir dengan indah dan puitis.

Begitupun dengan naskah “Ketika harus memilih satu diantara dua malaikat.” Naskah ini berbicara tentang kisah relasi antara majikan dan BMI yang dituturkan dengan gaya bahasa yang sangat menarik. Dalam naskah ini, ikatan yang hadir di antara mereka tidak lagi seperti majikan tetapi orang-orang yang suka memilih. Seperti pada dialog dalam naskah tersebut:

“Sisi, apakah kau tidak sayang kepadaku?” Suara pelan ama memecah kebisuan kami di dalam kamar 3×4 yang sudah kutempati lebih dari 30 bulan.

“Tentu saja aku sayang kepadamu, Ama.” Segera kupeluk dia ke dalam rengkuhan lenganku.

“Tidak bisakah kau tunda kepulanganmu sampai aku bertemu kembali dengan akong?”

Kalimat terakhir yang ama ucapkan benar-benar mengiris-iris kalbuku. Dia sangat kesepian di masa senjanya. Apalagi sekarang dia sudah memiliki kaki kanannya. Setiap saat yang diucapkannya adalah agar dia segera meninggal dan bertemu dengan orang yang telah mendahului ke alam baka sepuluh tahun yang lalu.

Saya sebagai pembaca benar-benar gelisah tentang naskah ini, karena hasil memilih Ama dan keluarga di Indonesia ini sangat sulit. Saya belajar melalui tulisan ini, yaitu cinta adalah pilihan, mirip dengan hidup.

Relasi antar manusia dapat terlihat jelas dalam perjalanan kisah majikan dan PMI. Antara membuat cinta dan melawan ketidakadilan. _____________________________________________________________________________ dalam hal ini. Sebab, mereka tidak hanya sebagai pekerja, namun dalam konteks mereka perlu dibela dari perjuangan mereka untuk bekerja, memendam rindu pada keluarga dan sebagai lebih baik menulis menjadi sia-sia semata.

Pulang

Apa yang paling Anda para Pekerja Migran Indonesia? jawaban tentu saja dengan hasil dan memulai hidup baru yang lebih baik. Itulah “kebahagiaan”, apa pun yang mereka diharapkan dan dikehendaki semua manusia.

Pulang adalah hal yang paling diidam-idamkan para PMI. Tapi pada kenyataanya, dalam beberapa naskah yang saya baca, tidak bisa dapat dengan baik dan tidak semua juga bahagia. Ada pula yang pulang dengan membawa materi, namun kehilangan keutuhan keluarga, entah itu yang berselingkuh, anak dan orang tuanya yang meninggal. Atau Mereka sendiri yang pulang ke Tuhan.

Ada dua yang sangat khusus tentang harapan untuk pulang, yaitu naskah yang berjudul “Pulang” dan “Ihwal Kepulangan”.

“Kemana pun kaki kita akan melangkah dan di mana pun tempat yang akan kita pilih untuk membangun kehidupan nanti, pada akhirnya kita akan merindukan untuk kembali pulang. Rumah adalah tempat tujuan kami untuk kembali dan kami akan selalu rindu untuk pulang, karena hanya ada keletihan dan kerinduan kita dapat terobati ”.

Kisah naskah berjudul “Pulang” diceritakan oleh seorang sahabat yang sangat dekat dengan tokoh bernama Yuni yang merupakan koma dari percobaan bunuh diri dengan memotong lidahnya sendiri dan berhubungan, dengan cara kerja yang berat. Setiap kali yuni mengadu pada agensi, mereka seolah-olah menutup mata dan melatih praktik buruk yang dilakukan nyata. Agensinya tidak masalah Yuni dapat mencoba, tapi tetap saja agensi Yuni tidak melakukan apa-apa, agensinya malah balikkan Yuni, untuk bekerja keras agar segera melunasi kewajibannya. Namun, motif bunuh diri yang paling berat karena menonton selingkuh, suami yang menjadi alasan untuk bekerja. Dan terakhir, Yuni tidak bisa pulang, ia meninggal,

Begitupun dalam naskah “Ihwal Kepulangan.” Dada yang saya anggap hangat membaca teks tersebut, seperti dalam dialog di bawah ini:

“Dan mimpi itupun berhenti, hingga satu minggu setelahnya kabar duka itu menyapa. Emak tak tahu sebab musabab bungsunya meninggal. Dari kabar yang tersebar, bungsunya itu terjatuh dari lantai 11 saat mengangkat jemuran. Nala bocah kecil itu, bocah yang berlarian dengan kawan-kawan sebayanya dilapangan. Mungkin akan benar-benar terpukul saat besar badan yang tahu bahwa ibu telah membebaskan dirinya selamanya. Malam semakin larut karena hujan yang menyambar sesekali menyambar. Dua hari sebelum Idhul Qurban, itu yang Emak ingat jelas dari mimpinya. Visi anak bungsunya itu beres pulang ”

Akhirnya, membaca seluruh naskah dalam lomba sastra migran ini telah membuka mata batin saya untuk terhubung dengan kisah dan momentum yang mengharukan, unik dan membahagiakan. Keseluruhan pembacaan ini mengandung emosi yang mendalam.

Pembelajaran tentang betapa rumitnya kehidupan pekerja migran Indonesia. Yang hidup di negara maju, mencari rezeki, melewati perbenturan budaya, melewati proses, dari proses, agen, hingga bekerja keras di rumah majikan. Namun yang paling cocok adalah mereka yang mungkin migran Indonesia tidak punya kesempatan menyaksikan penguburan seorang yang dicintainya, atau dia yang memang tidak sanggup berkumpul karena pulang ke rumah Tuhan. Dan tidak ada hukuman yang lebih buruk dari tenaga kerja sia-sia dan tanpa harapan.

Kembali ke kisah Sysiphus di awal tulisan, saya ingin melihat tulisan ini dengan referensi pada sikap dan laku manusia di dunia yang absurd. Saya sangat mengapresiasi 165 naskah yang dikirimkan oleh mereka para pejuang.

Makna hidup sebagai manusia dapat mencapai dengan laku memberontak sekaligus menerima dengan sabar, apa saja yang menghantam diri para pekerja migran tersebut. Mengolah seluruh rasa rasa, kesepian, harapan hingga menemukan cara-cara dan pencerahan baru. Karena itu, ada sesuatu yang lebih berarti dari tindakan kegunaan atau kinerja, yaitu sikap heroik menghadapi hidup dengan semua absurditasnya. Selamat berjuang kawan-kawan!

Penulis: Ratu Selvi Agnesia

 

 

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *