Si Belang Tiga

SI BELANG TIGA
oleh : Dian Pertiwi

Namaku Ina. Umurku 17 tahun dan suka banget sama kucing. Buat aku, kucing sudah seperti bagian dari keluarga.

So, kalau kucing yang aku punya itu hilang, aku pasti bakalan nangis dan sedih banget. Jadi nggak heran kalau dikeluargaku, aku disebut si maniak kucing.

Selain sayang sama kucing yang aku punya, aku juga sering mengadopsi kucing-kucing yang dibuang di jalan. Bagiku, orang-orang yang membuang kucing adalah orang jahat yang gak punya hati. Kenapa begitu? Karena kucing juga punya hak untuk hidup dan disayang.

Setidaknya jika tidak suka dengan kucing, maka lebih baik diberikan kepada orang lain yang suka dan mampu untuk merawatnya. Banyak kasus yang aku temui adalah membuang anak kucing tanpa induk dan ditaruh di dalam kardus.

Bagiku itu hal yang sangat kejam. Karena bayi kucing sangat lemah dan peka terhadap dingin. Jika tidak segera ditolong, pasti akan meninggal.

Hal itulah yang aku temukan di sore hari bulan Desember pada penghujung tahun 2016. Saat itu hujan turun dengan derasnya. Aku tengah santai duduk diteras rumah sambil minum coklat panas. Aku melihat 3 anak laki-laki serta 2 anak perempuan, berlarian dan main hujan-hujanan.

“Dik, kalian gak pulang? Nanti sakit lhooo” kataku.

“Gak apa-apa Kak. Kita lagi seru main hujan-hujanan nih” jawab mereka kompak.

Dalam hati aku bergumam. Namanya juga anak-anak. Bagi mereka, hal yang akan membuat senang pasti akan dilakukan bahkan jika hal itu nantinya bisa membuat mereka sakit.

“Wah ada anak kucing” seru salah satu anak laki-laki itu.

“Aduh, kasian. Gak ada induknya ya. Mau aku bawa pulang, tapi aku pasti dimarahi ibuku” jawab si anak perempuan.

Aku yang penasaran karena mendengar mereka menyebut nama “kucing”, akhirnya bangkit dari bangku yang ada diteras rumahku. Dengan membawa payung berwarna biru, aku mendekati mereka yang berada di pos kamling samping rumahku.

Aku melihat sebuah kardus bekas minuman air mineral mulai rusak karena terkena tetesan air hujan. Cepat-cepat aku melihat dan benar, ada bayi kucing berbulu kuning, putih dan hitam di dalam kardus itu.

“Kak Ina. Kakak kan suka kucing. Gimana kalau kakak ngerawat dia? Kasian kak gak ada induknya” kata salah seorang anak laki-laki.

Sang anak perempuan tidak mau kalah ikut menimpali, “Iya Kak. Apalagi kakak kan punya kucing indukan, jadi gak bakal kesulitan untuk memberikan dia susu. Yah, bisa dibilang jadi kucing angkat”.

Pendapat mereka semua memang benar. Walaupun aku memiliki kucing indukan, tetapi aku khawatir dia tidak akan memberikan kucing ini susu, mengingat bayi kucing ini bukan anaknya dan biasanya induk kucing bisa mendeteksi hal tersebut melalui indera penciumannya.

Tetapi yang terpenting sekarang adalah bagaimana caranya agar kucing ini bisa bertahan hidup.

“Iya Dik. Kucing ini kakak bawa pulang dulu ya. Terima kasih sudah menemukannya”.

Kubawa kardus itu masuk ke dalam rumah, kemudian Ibu yang sedang menonton TV diruang keluarga berkata “Apa yang kamu bawa itu? Pasti kucing ya? Ina, kucing kamu sudah banyak. Sekarang ada 8 kucing. Ibu rasa jumlah itu sudah cukup. Jangan ditambahi lagi”.

“Maaf Bu. Kali ini saja. Ina ingin merawat kucing ini. Dia dibuang tanpa induk dan kehujanan diluar” jawabku penuh rasa iba.

“Aduh. Ya sudah kalau itu mau kamu. Tapi ingat. Setelah ini sudah cukup dan jangan mngadopsi kucing lagi” pinta ibuku.

“Iya bu. Aku akan mengusahakannya” jawabku.

Aku pun bergegas pergi ke garasi rumah. Disana ada kandang kucingku yang baru saja melahirkan. Namun sayangnya, kucing indukanku sedang tidak ada disana. Dia pasti sedang pergi keluar rumah. Aku semakin khawatir jika kucing ini tidak bisa bertahan hidup. Dengan cepat aku mengambil handuk kecil untuk mengeringkan tubuh kucing ini.

“Meooong, meooong, meooong…” bayi kucing itu terus berteriak tanpa henti.

“Sabar ya Puss. Kamu pasti lapar ya. Oh iya, karena kamu belum punya nama, jadi aku memberimu nama Belang. Nama itu aku berikan karena bulumu berwarna tiga” sambil mengelus dan tersenyum aku berucap demikian.

Aku pun memasukkannya ke dalam kandang kucing. Aku berharap agar saat kucing indukanku datang, dia akan mengira bahwa semua yang ada di dalam kandang itu adalah anaknya.

Malam hari pun tiba, kulihat kucing indukanku belum pulang juga. Tetapi, bayi kucing itu tidak “mengeong” dengan keras lagi. Melihatnya tidur dengan bayi kucingku yang lain, hatiku sedikit lebih tenang dan aku pun pergi ke kamar untuk beristirahat.

“Kriiiiing..kriiiing..” bunyi jam weker di kamarku. Tak lama kemudian, terdengar suara adzan subuh. Aku pun bangun dan bergegas melaksanakan sholat subuh.

Setelah selesai sholat, ibu berkata “Coba kamu cek kucing yang kemarin. Sepertinya dia menemukan keluarga baru disini”.

“Wah benarkah Bu? Pasti si Puci sudah menyusui kucing itu” jawabku.

Puci adalah nama dari kucing indukan dirumahku. Dia baru saja melahirkan bayinya satu minggu yang lalu dan secara kebetulan, umur si Belang sepertinya tidak berbeda jauh dengan bayi-bayi si Puci.

Aku berjalan menuju garasi rumah dan melihat ke dalam kandang kucingku. Nampak si Puci dengan sabar menyusui si Belang dan bayi-bayi kucingnya. Bahkan tak lupa, si Puci pun menjilati tubuh si Belang dengan penuh rasa kasih sayang. Perasaanku menjadi lega dan terharu, karena Puci tetap merawat bayi kucing yang bukan anaknya.

Tiga bulan pun berlalu. Si Belang tumbuh besar dan sehat dengan anak-anak Puci yang lainnya. Aku memberikan nama Ucil dan Ecil untuk anak-anak si Puci. Mereka bertiga tumbuh sehat dan rukun meskipun bukan saudara kandung.

Aku membawa mereka semua keluar rumah, agar mereka mendapatkan sinar matahari. Sinar matahari akan menghangatkan tubuh mereka dan menjadikannya semakin sehat. Sambil mengelus kucing-kucingku, aku mendengar suara di pos kamling samping rumahku. Terlihat ada seorang ibu-ibu membawa kardus dan seorang anak kecil laki-laki disampingnya.

“Bu, jangan dibuang. Aku mau kucing itu” pinta si anak.

“Huush. Diam. Ibu akan membuangnya disini. Kalau kamu berteriak, nanti kita akan ketahuan” kata si Ibu.

Sontak aku pun terkejut mendengar perkataan sang Ibu. Perasaanku mengatakan bahwa si Belang dibuang oleh Ibu itu. Dengan segera aku mendekati ibu yang ada di pos kamling itu.

“Maaf Bu, permisi. Ibu sedang apa disini?” tanyaku padanya.

“Oh Mbak. Ini saya sedang main dengan anak saya” jawabnya dengan mimik wajah ketakutan.

“Maaf. Apakah di dalam kardus yang ibu bawa itu isinya bayi kucing?” tanyaku penasaran.

Belum sempat sang ibu menjawab, si anak laki-laki itu berkata “Iya Kak. Itu ada kucing di dalamnya. Ibuku akan membuangnya disini. Tapi aku gak mau, karena aku sayang dengan kucing itu”.

Sang Ibu pun malu dan marah mendengar perkataan sang anak. Beliau tidak menyangka bahwa sang anak akan berkata jujur padaku.

“Bu, apakah ibu tidak merasa kasihan dengan kucing yang akan ibu buang? Dia masih bayi dan tak ada kekuatan. Dia masih membutuhkan induknya untuk hidup” kataku pada beliau.

“Maaf Mbak. Tapi saya gak suka bayi kucing. Saya cuma ingin merawat induknya saja. Jadi saya akan membuangnya disini, karena kata orang-orang, Mbak Ina suka kucing. Lagi pula, dulu saya juga sudah pernah membuangnya disini. Bayi kucing dengan warna bulu belang tiga” jawab sang Ibu dengan santai.

Aku sedikit marah mendengar perkataan sang Ibu. Bagaimana bisa dengan seenaknya beliau membuang kucing disini hanya karena aku suka kucing. Jika kejadiannya seperti si belang kemarin, saat kucingku baru melahirkan maka aku akan senang merawatnya. Tetapi jika sekarang, saat kucing indukanku tak lagi menyusui dan anak-anak kucingnya sudah besar, maka sudah jelas bayi kucing ini akan mati karena tidak terurus.

Dengan tegas aku berkata “Maaf Bu. Disini bukan tempat pembuangan hewan apalagi kucing. Saya merawat mereka karena kesadaran hati saya. Kucing yang Ibu buang tiga bulan lalu pun sudah besar karena kucing indukan saya. Tetapi hal itu tidak lantas bisa membuat Ibu dengan seenaknya membuang bayi kucing disini. Mengapa Ibu tidak merawatnya saja? Anak Ibu terlihat sayang kepadanya. Anak Ibu akan belajar banyak hal dari hewan peliharaan. Dia akan belajar tanggung jawab dalam merawatnya, displin dalam memberikan makanan dan rasa empati saat bermain bersama. Semua itu baik untuk anak Ibu”.

Sang Ibu pun berkata “Mbak Ina benar. Selama ini saya salah. Seharusnya saya tidak membuang bayi kucing dan tidak memisahkan dari induknya. Saya minta maaf Mbak sekaligus berterima kasih karena sudah merawat bayi kucing yang saya buang tiga bulan lalu. Mulai sekarang, bayi kucing ini akan saya rawat dan menjadikannya sebagai hewan peliharaan bagi anak saya”.

“Hooree. Terima kasih Bu. Aku sayang Ibu” kata sang anak laki-laki.

“Sama-sama Bu. Saya hanya ingin tidak ada lagi orang-orang yang dengan mudahnya membuang bayi kucing” jawabku.

Sang Ibu dan anaknya pun pamit untuk kembali pulang kerumahnya. Dengan perasaan lega dan senang, aku berkata dalam hati “Hari ini aku kembali menyelamatkan bayi kucing yang akan dibuang. Semoga tidak ada lagi bayi-bayi kucing yang terlantar dan tidak terurus”.

Aku pun kembali ke halaman rumah dan melihat kucing-kucingku berlarian kesana kemari dengan semangat. Aku berjalan mendekati si Belang dan mengelus-elus kepalanya.

“Belang, berbahagialah dirumah ini. Karena kamu berhak untuk hidup dan disayang” kataku.

“Meong..meong..meoong” sambil menatapku seolah-olah dia sedang berkata kepadaku.

Aku hanya tersenyum dan memeluknya dengan erat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.