Sesal yang Terlewatkan

Malam terlalu indah untuk dilewatkan.

Seiring deru angin menusuk rongga, menelusup tak berisyarat kan.

Sama seperti rindu yang sulit dipatahkan.

 

Tidakkah sang rembulan kian merasa bebau bunga rindu malam ini?

Apakah terik pagi sang fajar yang mestinya menebak kenangan malam tadi?

Terkadang, sesal terlalu sadis untuk diungkapkan.

Bisa saja melebihi sayatnya belati tak tersarungkan.

Dia yang tak lagi berdampingan, tak lagi bersanding, namun kekosongan ini telah kembali berpaling. 

Sayangnya belum sempat hati ini mengutarakan. Karena tegur sapa mu yang baru ini ku balaskan.

 

Christian Kurniawan

Jakarta, 25 November 2017

 

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *