Senja Pertama

Senja Pertama

Senja Pertama

Oleh: Athok Mahfud

SastraIndonesia.net – Aku berumur 17 tahun saat cinta untuk pertama kalinya menyinariku dengan cahayanya yang terang. Cahaya itu perlahan masuk ke dalam hidupku. Menerobos melalui celah pori-poriku. Membasuh relung jiwaku. Dan menerangi gelapnya hatiku.

Saat itu aku duduk di bangku kelas 12 SMA Pelita Raya, salah satu SMA favorit di kota Pati. SMA-ku selalu mendapat juara dari berbagai macam perlombaan di setiap tahunnya. Salah satunya adalah lomba membaca puisi, dan aku sendiri yang mewakilinya.

Namaku Boy Hamdan. Teman-temanku biasa memanggilku Boy. Aku merupakan siswa yang aktif dalam organisasi sekolah. Aku adalah ketua organisasi Sastra Club di sekolahan. Aku seorang senior yang baik, sehingga banyak junior yang menghormatiku.

TET……TET…!!!!!

Suara bel pulang sekolah berbunyi keras. Berdentum memekakkan telinga. Membuncah seluruh ruangan kelas. Pintu-pintu kelas seakan mengeluarkan lautan manusia. Aku sudah berkemas dan melangkahkan kakiku keluar.

“Hay Boy,,,,,” terdengar suara orang yang memanggilku. Kelvin dan Anwar melambaikan tangan, berjalan menghampiriku. Mereka berdua adalah sahabat terbaikku. Mereka juga yang membantuku dalam menjalankan Organisasi sastra Club.

“Gimana Boy? Jadi kan acaranya.” Kelvin menghela nafas.

“Iya, sekarang kalian panggil anggota Sastra Club untuk berkumpul di ruang sastra. Aku akan memberi tahu siswa-siswi bahwa pendaftaran anggota baru akan dibuka.” Aku menyentuh bahu Anwar.

“Siap komandan,” mereka berdua tersenyum kompak. Itulah yang membuat persahabatan kita jadi indah. Aku senang mempunyai teman seperti mereka. Mereka selalu membantu meringankan tugasku.

Aku sudah sampai di kantor. Aku akan mengumumkan pendaftaran anggota baru Sastra Club. “Bagi seluruh siswa-siswi SMA Pelita Raya yang ingin bergabung dalam organisasi Sastra Club harap mendaftarkan diri di ruang sastra sekarang juga.” Suaraku terdengar di seluruh kompleks sekolahan.

Saat aku melewati pintu kantor. Saat siswa-siswi berlalu lalang. Saat panas mentari menyengat ubun-ubun. Saat itulah aku hampir bertabrakan dengan seorang wanita. Dia adalah adik kelasku. Dan saat itu juga kisah cintaku baru dimulai.

“Eh, maaf ya.” Hatiku meleleh saat suara lembut itu menghiasi telingaku. Aku memandang wajahnya. Subhanallah. Wanita itu sangat cantik. Matanya indah seakan memancarkan cahaya di tengah gelapnya malam. Suara lembutnya mencerminkan akhlak dan kepribadiannya yang baik. Dia memakai kerudung putih seolah melambangkan kesucian hatinya. Dan senyumnya, senyumnya damai seperti air yang mengalir di sungai dengan tenang. Dia memang cantik. Dan entah mengapa hatiku berdesir saat dihadapannya.

“Iya gak papa kok,” itulah kata pertama yang kuucapkan padanya. Aku tidak bisa sedetik pun berpaling dari keindahan wajahnya. Kecantikannya seolah menyihir mataku.

“Nama kakak Boy Hamdan kan, ketua Organisasi Sastra club,” Dia menundukkan kepalanya. Mungkin dia malu. “Iya dek, kenapa?” Aku merapikan seragamku. “Ini kak aku mau daftar jadi anggota Sastra Club.” Dia terlihat kaku di depanku. “Oh, kalau begitu kamu langsung ke ruang sastra saja dek. Ayo kita bareng, kebetulan aku juga mau ke sana.” Aku masih tak bisa melepaskan pandanganku terhadapnya. “Iya kak, ayo.” Dia tersenyum padaku.

Kita berjalan bersama menuju ruang sastra. ini adalah pertama kalinya aku berjalan dengan seorang perempuan. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Diam. Sunyi. Tanpa kata. Rasanya aneh kalau kami hanya diam tanpa bicara. Aku tidak ingin membuat suasana menjadi membosankan. Tapi aku bingung apa yang harus kukatakan.

“Nama kamu siapa dek?” akhirnya kata itulah yang terucap dari bibirku. “Ratna Kusuma kak,” Dia menjawabnya dengan santai. “Wah namanya indah ya kayak orangnya,” Aku berusaha sebisa mungkin untuk membuat suasana tidak membosankan. “Hehe, Aku biasa aja kok kak.” Dia mengukir senyuman di bibirnya.

Senyuman itu, senyuman itu entah mengapa menumbuhkan rasa semangat dalam hidupku. Entah mengapa aku merasa nyaman saat melihat senyuman itu. Aku tak tahu apa yang kurasakan saat ini. “Kamu sudah makan siang belum dek?” Aku membuka mulut. “Belum sih kak,” Dia menjawab santai. “Habis acara ini kita makan di kantin yuk.” Aku memandang wajahnya. “Em,,, boleh juga.” Namun dia malah memalingkan wajahnya dariku.

Kami sudah sampai di ruang sastra. Banyak sekali orang yang ada di sini. Kelvin melihat kedatangan kami. Wah bisa gawat nih. Dia pasti berpikir yang aneh-aneh.

“Wah siapa tuh? Cantik juga, pacarmu ya Boy.” Dia berbisik sambil melirik ke arah Ratna. “Eh apaan sih, Dia itu adek kelas kita.” Aku mencubit perutnya. “Wah kamu dapat pacar adek kelas ya.” Dia terus saja menggodaku. “Jangan gitu deh Vin, Dia itu mau daftar jadi anggota sastra club. ”Aku melihat Ratna yang tengah malu, ini semua pasti ulah Kelvin. “Maafkan teman aku ya dek, Dia emang sedikit miring.” Aku jadi tidak enak sama Ratna.

Pendaftaran anggota sastra club ini tidak terlalu rumit. Calon anggota hanya mengisi formulir dan menyerahkan satu  cerpen dan satu puisi yang telah mereka buat sebelumnya. Kemudian anggota kami akan menyeleksinya satu persatu. Cerpen dan puisi yang memenuhi kriteria yang telah ditentukan maka pengarangnya akan masuk dalam organisasi Sastra Club dan akan diumumkan minggu depan.

Setelah acara itu aku dan Ratna makan di kantin. Kita baru saja kenal. Tapi entah mengapa aku merasa nyaman dan bahagia saat aku berada di dekatnya. Dia cantik, pintar, asyik, seru, humoris dan yang paling penting dia sederhana dan apa adanya. Tidak seperti cewek zaman sekarang yang tidak aku suka.

Setelah makan kami pulang ke rumah masing-masing. Entah mengapa aku tidak ingin jauh darinya. Berat sekali rasanya untuk melangkahkan kaki dari hadapannya. Aku merasa ada sesuatu yang hilang dalam hidupku. Namun aku tidak bisa melakukan apa apa.

Malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya. Ada sesuatu yang menjanggal di benakku. Ada hal yang yang mengganggu pikiranku. Aku tidak bisa tidur nyenyak. Sulit rasanya untuk memejamkan mata.

Kejadian tadi siang masih teringat dalam memoriku. Wajah cantiknya seolah masih berada di depan mataku. Suara lembutnya masih terngiang di telingaku. Senyum indahnya seolah terukir di langit-langit kamarku. Aarrgghhh,,,, perasaan apa ini. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta? Entahlah. Kalau memang iya, ini adalah cintaku yang pertama.

***

Dua bulan berlalu setelah perkenalanku dengan Ratna. Sore ini aku dan dia akan bertemu di taman kota. Sudah lama aku memendam perasaan ini. Apakah aku jatuh cinta padanya?  Iya. Apakah aku sayang dia? Jawabannya adalah iya. Aku pun takut kehilangannya. Dan nanti sore aku akan mengungkapkan isi hatiku yang sebenarnya.

Beberapa menit lagi pertemuan kami akan tiba. Aku mengenakan celana jeans, kaos biru, dan jaket hitam. Aku mengendarai motorku menuju taman kota. Kira-kira sepuluh menit lagi aku akan sampai di sana.

Aku sudah sampai di taman kota. Di sini cukup sepi, tidak seperti biasanya. Banyak tempat duduk yang kosong. Hanya ada tiga sampai lima pasang kekasih. Aku melihat sepasang kekasih yang tampak romantis. Aku iri dengan kedekatan dan kemesraan mereka.

Aku melihat setiap sudut jalan. Sepi. Lengang. Tak ada deru mobil. Tak ada asap motor. Hari semakin senja. Aku masih menunggu Ratna yang tak kunjung datang.

Aku duduk di bangku taman yang kosong. Lebih baik aku menunggunya di sini. Aku melihat pasangan kekasih yang hendak pulang. Mereka bergandengan tangan sangat mesra.

Senja telah datang. Sebentar lagi mentari akan hilang. Cahaya jingganya membungkus taman kota. Menerpa dedaunan, pohon, rerumputan dan juga bangku yang kududuki. Hanya aku saja yang ada di sini. Semua orang baru saja pulang. Namun Ratna tak kunjung datang. Harus berapa lama aku menanti kehadirannya.

Aku melihat ada seorang wanita yang datang. Aku kenal dengan wajah itu. Aku kenal dengan mata itu. Aku kenal dengan senyuman itu. Dialah pujaan hatiku. Dialah cinta pertamaku. Aku sudah lama menunggunya. Akhirnya Dia datang juga.

Aku melambaikan tangan ke arahnya. Dia menghampiriku. Dia duduk di sebelahku. Jantungku berdebar-debar. Aliran darahku mengalir lebih deras. Hatiku deg-degan. Ya Tuhan, perasaan apakah ini. Aku mencoba mengendalikan diriku agar tidak grogi di hadapannya.

“Hay Boy! Maaf sudah membuatmu menunggu.” Dia menyapaku duluan. “Iya Rat, gak papa kok,” jawabku. “Kamu mau ngomong apa Boy?” tanyanya dengan penuh penasaran. Jantungku berdebar semakin kencang. Dag dig dug di hatiku jadi tak karuan. Aku harus memulainya dari mana?.

Aku menenangkan diriku terlebih dahulu. Aku menghela nafas pelan. Mengusap keringat di dahiku. Aku memandang wajahnya. Ya Tuhan, matanya sangat indah. Matanya memancarkan cahaya terang yang mengalahkan sinar jingga mentari. Senyumnya begitu menawan saat gigi kelincinya terpancar. Angin lembut membelai kerudung merahnya. Menambah kecantikannya yang tiada tara.

“Jadi gini Rat, sudah lama aku memendam perasaan ini. Sebenarnya aku suka sama kamu. Aku cinta sama kamu. Kamu mau kan menjadi kekasihku?.” Aku memandang wajahnya. Meyakinkannya dengan tatapan mataku.

“Apa kau benar-benar mencintaiku?” Nampak sedikit keraguan di wajahnya.

“Aku sungguh benar-benar mencintaimu. De