Sejarah Puisi di Masjidil Haram

Sejarah Puisi di Masjidil Haram

Puisi adalah kesusteraan yang paling tua. Puisi sudah tumbuh dalam masyarakat sebagai satu kesatuan dengan keyakinan (agama atau religiusitas). Nenek moyang manusia merapalkan kata-kata yang tersusun, indah dan tidak terlepas dari hal yang batin, mistis dan keyakinan pada suatu ihwal penciptaan.

Sejarah puisi diduga mula-mula terikat dalam mantra, kemudian menjadi lirik yang disenandungkan, tergurat dalam pantun, syair, gurindam dan segala macam. Dengan begitu puisi mempunyai kekuatan sakral yang tidak sembarangan. Sebelum manusia punya beradapan tulisan, puisi tertanam dalam sastra lisan diberbagai kebudayaan dunia.

Di zaman arab pra-Islam misalnya, puisi mempunyai kedudukan yang tinggi, karenakan puisi memiliki
pengaruh yang dominan dan kuat di tengah masyarakat.

Menulis puisi adalah prestise sebuah suku (kabilah) di antara Suku-Suku arab lainnya. Hal ini seperti digambarkan oleh Ibn Rasyiq bahwa bila seorang penyair muncul disebuah suku Arab, maka suku-suka lain akan datang dan memberi ucapan
selamat.

Pasar Ukaz, di wilayah Arab era jahiliyah tidak hanya berfungsi sebagai tempat melakukan aktifitas jual-beli, tetapi juga menjadi tempat berkumpulnya para penyair untuk memperlihatkan kemahiran melantunkan syair di hadapan para kritikus layaknya sebuah festival. Selain berfungsi sebagai tempat perdaganagn dan penilaian penyair terbaik.

Kemudian, ada sebuah hari yang diebut, Ayyamul ‘Arab adalah bagian dari fenomena sosial di era jahiliyah menjelang kedatangan islam.

Sebenarnya Ayyamul ‘Arab ini berubah wujud menjadi lembaga sosial keagamanan masyarakat jahiliyah setelah banyaknya permusuhan antarsuku yang disebabkan oleh persengketaan seputar padang rumput, ternak atau sumber air.

Persengketaan antar suku pada Ayyamul ‘Arab dapat berujung pada perampokan, penyerangan hingga perang kecaman dari para penyair suku yang bertugas sebagai juru bicara dari masing-masing suku.

Selain itu, Para penyair Arab jahiliah berlomba-lomba menggantungkan syair mereka pada pojok-pojok
Al-Bait, Al-Haram, tempat mereka melakukan ibadah haji dan rumah Ibrahim, Ka’bah.

Hanya orang yang berpengaruh di kalangan masyarakat, dan orang yang mempunyai kedudukan yang baik, yang mampu menggantungkan syairnya dipojok-pojok Ka’bah. (*)

Penulis: Ilham Yusardi

Penulis Puisi di zaman Milenial

Baca juga Sejarah Puisi di Indonesia:

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *