Sejarah Puisi di Indonesia dan Peran Angakat 45

Sejarah Puisi di Indonesia

Sejarah Puisi pada masa Angkatan 45 berubah lebih luas. Di zaman ini puisi memiliki struktur bebas, kebanyakan beraliran ekspresionisme dan realisme, diksi mengungkapkan pengalaman batin penyair, menggunakan bahasa sehari-hari, banyak puisi bergaya sinisme dan ironi, dikemukakan permasalahan kemasyarakatan, dan kemanusiaan.

Di periode awal kemerdekaan (1953-1961) kembali muncul satu generasi yang menapak zaman baru. Jika pada angkatan 45 yang menyuarakan kemerdekaan, semangat perjuangan dan patriotisme, maka pada periode ini membicarakan masalah kemasyarakatan yang menyangkut warna kedaerahan (lokalitas).

Sifat revolusioner terhadap penjajahan yang berapi-api mulai merada. Mulai banyaknya puisi beraliran romantik dan kedaerahan dengan gaya penceritaan balada.

Puisi pada periode ini banyak yang mengungkapkan subkultur, suasana muram, masalah sosial, cerita rakyat dan mitos (Atmo Karpo, Paman Ddoblang, dan sebagainya).

Cirri yang menonjol pada periode ini adalah munculnya politik dalam sastra, sehingga lahirnya LKN, LEKRA, LESBUMI, LKK, dan
sebagainya.

Dalam hal isi puisi angkatan ini adalah puisinya bergaya epic (bercerita), gaya mantra mulai dimasukkan dalam balada, gaya repetisi dan retorik semakin berkembang, banyak digambarkan suasana muram penuh derita, menerapkan masalah social dan kemiskinan, dasar penciptaan balada dari dongeng kepercayaan, pra penyair yang dapat digolongkan dalam periode ini adalah: W.S Rendra, Ramadhan KH, Toto Sudarto Bachtiar, dll.

Kemudian ada juga yang mencatat angkatan 66 (1963-1970). Masa ini didominasi oleh sajak demonstrasi atau sajak protes yang dibaca untuk mengobarkan semangat para pemuda dalam aksi demonstrasi, seperti pada tahun 1966 ketika sedang terjadi demonstrasi para pelajar dan mahasiswa terhadap pemerintahan Orde Lama.

Penyair seperti Taufiq Ismail dan Rendra, membacakan sajak protes mereka didepan para pemuda.

Pada periode ini berkembang dua aliran besar puisi. Aliran pertama adalah aliran neo-romantisme yang menegaskan sepi sebagai perlawanan yang bersifat metafisis, atas dunia.

Penyair yang menganut aliran ini adalah Goenawan Mohammad, Sapardi Djoko Darmono, dan Abdul Hadu W.M. Aliran yang kedua adalah aliran intelektualisme, aliran yang menekankan pada pengamatan kritis tentang dunia dan pengalaman pribadi. Penyair yang yang beraliran intelektualisme adalah Subagio Sastrowardoyo dan Toety Heraty.

Puisi Kontemporer puisi yang muncul pada masa kini dengan bentuk dan gaya yang tidak mengikuti kaidah puisi pada umumnya, dan memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan puisi lainnya. Dalam puisi kontemporer, salah satu yang penting adalah adanya eksplorasi sejumlah kemungkinan baru, antara lain penjungkirbalikan kata-kata baru dan penciptaan idiom-idiom baru.

Pada puisi kontemporer bertema protes, humanisme, religius, perjuangan, dan kritik sosial. Puisi kontemporer bergaya seperti mantra, menggunakan majas, bertipografi baru dengan banyak asosiasi bunyi, dan banyaknya penggunaan kata dari bahasa daerah yang menunjukkan kedaerahaannya.

Sutardji, Afrizal Malna, Joko Pinurbo, Iyut Fitra, Acep Zam-zam, Adri Sandra, Deddy Arsa dan ribuan nama yang btidak mungkin disebut mengembangakan puisi-puisi baru.

Saya berani mengatakan, era puisi memasuki dunia baru yang lain sama sekali dari sebelumnya. Fenomena teknologi informasi dan dunia digital pun telah merangkul puisi ke arah yang baru. Mungkin saja oran-orang sebut saja era milenia, dengan sudah terhubungnya manusia dengan manusia lainnya melalui jaringan internet.

Dalam hal bentuk, tidak ada lagi patron yang khusus tentang puisi. Kebebasan berekspresi telah menjadi akar bentuk-bentuk puisi. Seorang penyair boleh boleh saja menggali khasanah sastra lama (pantun, mantra, gurindam dan sebagainya) hingga bahasa-bahasa idiom yang futuristik (penyingkatan, kode-kode digital, bahasa slank, gambar dan segala macam,).

Penulis puisi mengolah berbagai dengan berbagai strategi penulisan, tak ada ketentuan yang mengikat. Ruang elaborasi
terbuka seluas margin pengetahuan manusia.

Saya melihat ini dengan ciri-ciri: semua orang mau menulis puisi. Dari anak SD hingga hampir mati, dari tukang becak sampai politisi, Wiji Tukul hingga fadli Zon atau Rahmawati Sokearno Putri telah menjadi penulis puisi. Tak dapat ditolak dan tak boleh ditegah. Setiap manusia bebas mengekpresikan dirinya melalui puisi.

Tak ayal, ada gejala puisi menjadi objek kapital dan alat politik yang akut. Puisi diproduksi untuk bisnis komersil. Puisi ditulis untuk agresi wacana dan polemik ppolitik. Ribuan situs internet memuat puisi.

Ratusan penerbit berani menerbitkan puisi dari ratusan penyair tanpa ada kurasi. Menjadi penyair bukan lagi hal yang eksklusif dan magis sebagaimana zaman arab pra-islam tadi. Atau anda tak perlu dibaptis oleh redaktur koran sebagai penyair karena puisitela dimuat di koran Minggu.

Jika seseorang punya modal silahkan saja menulis dan membukukan puisinya. Jika kau punya kekuasan silahkan saja mengangkat diri sendiri sebagai penyair.

Puluhan akun sosial media pun membaktikan dirinya untuk menayangkan puisi-puisi. Sebut saja: Ada Wikipuisi, Poetrygram, Ruangpuisi dan banyak lagi. Dunia publikasi melalui media cotak koran tidak lagi hal yang ‘purnacipta’ bagi seorang penulis puisi. Penulis puisi bisa memajang puisinya di Facebok, instagram, Whatapps dan mendapat apresiasi langsung dari rekan-rekan dalam jaringan.

Dapatlah kita simpulkan, masa depan puisi adalah ruang yang terbuka lebar bagi siapa saja. Dunia puisi bisa menerima siapa saja untuk jadi penyair, dan siap-siap pula untuk dicaci dan ditendang seseorang dari panggilan penyair. Tidak ada lagi lembaga (media, redaktur, kritikus sastra) yang mampu menolak seseorang menjadi penyair. lihatlah, Denny JA, dengan segala kemampuan politik dan daya finansialnya, seakan telah memaksa orang orang untuk mengakui sebagai penyair yang
membawa perubahan baru dengan puisi esainya.

Bagi sahabat yang berkhusuk-khusuk dengan puisi, tidak perlu mengambil hati dari Denni JA, Rahmawati, atau Fadli atau bahkan Mungkin Ilham yusardi. Setiap puisi dan penulisnya akan menemui nasib masing-masing. Masa depan puisi depan puisi barangkali masa depan manusia itu sendiri. Saya kutip lagi “satu puisi tidak menyelamatkan seseorang dari kelaparan, tapi cukup untuk menyelematkan manusia dari hasrat bunuh diri!” Wallahualam.

Penulis: Ilham Yusardi
Penulis Puisi di zaman Milenial

Baca juga sejarah puisi di Nusantara: Geliat Puisi di Nusantara

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *