Kumpulan Puisi Wiji Thukul tentang Cinta

Wiji Thukul

Berikut adalah kumpulan puisi Wiji Thukul tentang Cinta;

Asal Mula Diriku

Kata ibuku…
Cinta tumbuh dari pandangan mata
Lalu turun ke hati

Dan katanya lagi…
Sehabis dari hati
Lalu turun ke bawah lagi…
Dan setelah itu lahirlah aku

6 Juni 2003

Pohon Yang Bernama Cinta

Ketika cinta mulai ajak berkenalan
Kabut kalbu tebal tipis tak karuan
Semua tak tahu itulah cinta
Biji cinta itu kini jadi kegalauan

Dan ketika biji cinta mulai tumbuh
Rasa rindu kan terasa di sekujur tubuh
Saat itu logika mulai kalah oleh perasaan
Tak fikir akibat namun hanya kesenangan
Yang ada hanya ingin bertemu

Biji cinta itu t’lah jadi pohon yang kokoh
Berakar kasih sayang berbatang kepercayaan
Dan kan berbuah kebahagiaan

Namun terkadang…
Cinta punya cabang untuk hati lain
Dan dimulailah perselingkuhan
Dari situ batangnya mulai rapuh
Akarnya mulai busuk dan takkan pernah lagi berbuah

Karena itu pohon cinta harus selalu dipupuk
Dengan pupuk yang berkualitas tinggi
Dibeli dari petani nurani
Dengan merek: Kesetiaan Murni

31 Juni 2003

Sang Pecinta Sejati

Akulah gadis belia yang angkuh itu
Yang berdiri dalam terang percaya diri
Menganggap semua pasti dapat kujelang
Dalam percaya dan hasrat kalbu
Yakin semua kan jadi milikku

Akulah gadis belia yang kau tatap itu
Yang terkagum-kagum
Saat pucuk bola matamu menerjang
Laksana sorot tajam elang
Yang menghadangku, mengoyak kalbuku

Akulah gadis belia yang tak punya malu
Yang berjuang tuk gapai tangan kekarmu
Tangn seorang yang jatuhkan angkuhku
Walau kau pernah tak tahu
Betapa aku mendambamu

Dan, kini gadis belia itu yang merindukanmu
Menanti hadirmu di ujung kalbu
Yang membuatmu diam terpaku
Saat kuucap, “Aku Cinta Padamu”

Akulah gadis belia yang berharap tinggi
Menjagamu di tiap sudut nurani
Yang selalu ingin kau mengerti
Bahwa akulah sang pecinta sejati

10 Februari 2005

Sebuah Penantian

Lelap bermimpi dalam bayang semu
Menggenggam imajinasi dalam gandengan tanganmu
Terbuka mata
Kulihat semua
Buyar!!

T’lah lama kulewati masa bersamamu
Terlihat wujud perhatianmu padaku
Aku tahu kau punya hati untukku
Namun aku malu ingin bertanya padamu

Di sini aku termangu dalam penantian
Kasih, kau tahu pasti kini kutersudut sepi
Masih gadis kecilmu yang dulu
Menantimu
Dalam masa indah bersamamu

Namun aku masih percaya
Ada cinta untuk kita berdua
Dan lihatlah aku di sini
Menanti ungkapan sejati dari sebuah hati
Hatimu yang ku tahu
Ingin ungkapkan cinta padaku

13 Maret 2005

Aku Yang terlupakan (Galau)

Tak tahu apa yang kan kulakukan lagi
Mungkinkah kan terus begini
Tak ada seorang pun yang menghiraukanku
Bahkan mereka tak sadar t’lah sakiti hati ini

Aku tak tahan!
Mereka tak pernah hirau arti hadirku
Mereka acuh
Mereka tak pernah tahu; aku sakit hati!

Walau kini ku masih tegar
Bibir ini masih bisa tersenyum lepas tawa
Dan wajah ini rahasiakan duka yang ada
Namun kelak takkan ada yang tahu
Tububuh ini akan tumbang perlahan-lahan
Dan mata ini kan terkutuk kesedihan
Lalu takkan bisa sirna
Untuk selama-lamanya

Sesaat Tentang Cinta

Bagi seorang gadis ini
Bisakah cinta adalah sepotong coklat
Yang manis saat diulum
Namun pahit tertinggal apabila tertelan

Ataukah sebuah jerawat mungil
Yang muncul perlahan-lahan
Namun sakit saat ditekan
Dan berpendar dikala yang panjang

Seorang pujangga pu katakan
Dengan cinta seorang lemah terkuatkan
Tapi yang kuat terlemahkan

Gadis ini tetap mencari
Apakah cinta selembar sutera sederhana
Namun menakjubkan saat berwujud busana
Atau bisakah buah kedondong
Yang halus di luar tapi runcing di dalam

Namun cinta bagai lentera
Andai dinyalakan sinarnya indah
Memancarkan cahaya

Ada pula yang bilang
Cinta adalah bahasa kalbu
Yang hanya rasa yang tahu

Seakan gadis ini menyimpulkan
Cintai bagai mata pelajaran mate-matika
yang membingungkan
Namun dengan logika
Cinta akan ada jawabannya.

28 Desember 2003

Kapan Saat Itu Tiba

Mata sayup ini berbinar penuh ceria
Indah nian elok kutatap hari ini
Hari indah bertajuk indahnya namamu
Apa yang terjadi padaku kini?
Dirimu tlah mengisi separu diriku ini

Nadiku berdegup kencang
Pikirku turut melayang
Entah diriku atau dirimu
Entah rasaku atau rasamu
Entah harapanku atau harapanmu
Tlah wujudkan timbulnya cinta

Dan aku masih saja menatapmu
Tersenyum menyapa dirimu
Bertemu saling lambaikan tangan
Tertawa dalam canda tawamu
Namun, sebelum perpisahan itu tiba
Kapankah ku kan miliki dirimu?

9 November 2004

Persembahan Rasaku

Cintaku kuungkap saat ini
Lewat mawar yang merekah indah
Namun akan hancur tanpa perhatian

Cintaku cinta sejati
Bukanlah sebilah pedang
Yang tersembunyi di balik sayap sang pecundang

Cintaku sebuah kejujuran tak ternilai
Sebuah pengkhianatan dan kesangsian
Muncul dari kalbu

Cintaku kuungkap lagi
Laksana lentera hati
Indah sinarnya slalu menyala
Sebelum redup kehilangan asa

Cintaku laksana keabadian rasa
Yang menyelubungimu, dia, mereka, dan kita semua

14 Desember 2004

Kira – Kira

Kira-kira 3 tahun yang lalu
Kita berdekatan

Kira-kira 2 tahun yang lalu
Kita jadian

Kira-kira 1 tahun yang lalu
Kita bertengkar

Kira-kira 11 bulan yang lalu
Kita bermaafan

Kira-kira 1 bulan yang lalu
Kau ku rindukan

Kira-kira 3 jam yang lalu
Pada saat mendung kelabu
Ku ingin lagi bertemu

Kira-kira 5 menit yang lalu
Ku bertanya padamu

Kira-kira…
Maukah kau hidup bersamaku?

7 Februari 2005

Jatuh Cinta

Berulang kata kuucap lembut padamu
Berulang kala kujelang bersamamu
Kini sebuah senyummu menancap kalbuku
Bangkitkan getar cinta nan kasih syahdu

Sayang, kini ku t’lah jatuh terpesona
Pada lentiknya bulu matamu
Serta tipisnya bibir merahmu
Malamku selalu merindu
Pada indahnya lesung pipimu
Serta gerai indah rambut hitammu

Andai kau tahu
Ku t’lah jatuh cinta padamu
Ku ingin kau jangan diam membisu
Karena kau tahu isi hatiku
Katakan juga kau cinta padaku

14 Februari 2005

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *