Pacar Seorang Seniman Cerpen WS Rendra

Pacar Seorang Seniman

Oleh: WS Rendra

Saya mempunyai adik perempuan yang cantik, tetapi tiada mau dikawinkan. Ia dulu mempunyai pacar seorang seniman, tetapi seniman itu sudah delapan tahun yang lalu pulang ke rahmatullah. Adik saya rupanya sangat mencintainya sehingga sampai sekarang ia tak mau kawin dengan orang lain, meskipun usianya sudah 28 tahun.

Ibu saya sedih dan malu karenanya. Ia merasa kehilangan muka kalau orang-orang menyangka bahwa adik saya itu tidak laku kawin.

Akan tetapi, pada hakikatnya tak ada orang yang akan menyangka begitu. Banyak orang sudah tahu bahwa adik saya itu banyak menerima lamaran dari berbagai pihak, dan para pelamar itu kebanyakan mempunyai pangkat yang tinggi juga, sebab adik saya itu meskipun sudah bisa disebut perawan tua, masih juga tetap kelihatan cantik serta menarik.

Selalu apabila ditawarkan oleh ibu sebuah lamaran yang disampaikan lewat dia, adik saya itu selalu menjawab, bahwa ia tidak bisa melupakan Mas Har, yaitu seniman itu.

Semua orang, termasuk saya, tidak tahu benar mengapa adik saya fanatik dalam hal cintanya kepadanya. Seniman itu menurut pendapat saya seperti manusia biasa saja. Mukanya kotor, badannya tidak gagah, rambutnya seperti rumput, dan bulunya tumbuh di mana-mana seperti seekor kera. Cuma kalau sudah dipandang agak lama memang terlihat juga bahwa mukanya memang manis. Artinya, seandainya cambangnya dibersihkan dan kumisnya dipelihara baik-baik.

Pada suatu hari, saya pergi ke Jakarta menengok ibu dan adik saya itu. Kesempatan ini saya pergunakan untuk menasihatinya supaya ia jangan sampai menyia-nyiakan umur mudanya. Janganlah ia sampai rugi apabila kelak sadar bahwa ia belum puas mengecap bunga kehidupan. Saya katakan bahwa sikapnya yang sekarang ini tak ubahnya dengan merusak hidupnya sendiri, membiarkan dirinya layu tanpa mengecap kenikmatan dunia. Tidak baik menyiksa diri sendiri begitu itu.

Waktu itu ia diam saja. Namun, selama beberapa hari kemudian sesudah itu, ia kelihatan selalu merenung dan berpikir. Akhirnya, waktu saya sudah pulang kembali ke Surabaya, saya menerima surat darinya. Surat itu adalah jawaban dari segala nasihat saya yang saya sebutkan itu. Saya sangat terharu membaca suratnya. Surat itu membukakan pada saya rahasia hati dan perasaan wanita yang lembut dan tak terduga itu. Kecuali itu, sadarlah saya sekarang sampai berapa jauh wanita itu bisa teguh dalam kesetiaannya.

Surat itu berbunyi sebagai berikut.

Nasihat yang kau ucapkan dulu itu bukanlah yang kali pertama saya dengar. Karena kau adalah kakak lelaki yang sangat saya cintai, dan kepada siapa saya bisa berterus terang akan segala kesulitan saya. Sekarang saya menjelaskannya kepadamu. Saya akan menceritakannya dari permulaan.

Seperti kau telah tahu, saya mulai berhubungan dengan Mas Har karena ia tinggal mondok pada keluarga kita di Jakarta. Saya akui bahwa ia memang tidak lebih dari yang lain. Sampai waktu lama setelah saya dengan dia, saya masih juga belum tertarik kepadanya. Malahan, saya sedikit kaget pada sikapnya yang terlalu bebas dan kasar itu.

Pada suatu kali, kami sakit pada saat yang bersamaan. Waktu itu saya masih di SMA. Saya tak masuk sekolah karena sakit itu. Hal ini menyebabkan saya lebih banyak mendapat kesempatan untuk betul-betul mengenalnya.

Tadinya saya takut kepadanya. Saya kira orang semacam itu, sebagaimana juga yang lain, sangat gampang berlaku kurang ajar kepada wanita. Namun, ternyata malahan sebaliknya. Ia berlaku jujur kepada saya. la kasar, tetapi nyata menghormati saya.

Waktu itu penyakit saya tak seberapa parahnya. Saya lebih cepat sembuh daripadanya. Tadinya saya tak tahu, bahwa ia sedang sakit juga. Setelah saya agak sembuh, baru saya tahu bahwa ia juga sedang sakit. Tadinya, waktu sakit saya sedang keras-kerasnya, ia pergi ke apotek untuk membelikan obat saya sebab selain ibu kita yang sudah tua itu memang tak ada orang lainnya lagi.

Saya sangat berdebar-debar waktu ia memasuki kamar saya sambil memberikan obat itu. Waktu itu saya sendirian. Saya takut ia akan berbuat kurang ajar. Ternyata tidak. Sikapnya sangat biasa sekali. Kekurangajarannya, kekurangajaran yang lucu, tidak ada hubungannya dengan kekurangajaran seorang buaya.

Biasanya lelaki-lelaki suka membuntuti saya, menyerang saya, dan mengejar-ngejar saya. Apabila saya berkenalan dengan seorang pemuda, selalu saya tidak salah menyangka bahwa ia nanti akan membelokkan arah perkenalan persahabatan itu ke arah yang tertentu. Banyak teman-teman saya lelaki yang mencoba mengubah suasana persahabatan kami menjadi suasana percintaan.

Mas Har tidak begitu. Ia bersikap sangat biasa, dan kelihatan jauh dari tanda-tanda untuk mempunyai maksud yang tertentu. Bahkan, dalam beberapa hal ia bersikap kepada saya seperti terhadap seorang anak kecil. Tak ada tanda-tanda nafsu menyerang padanya. Hal itu menyebabkan saya tidak merasa takut untuk lebih mengamat-amatinya, untuk lebih mengenalnya.

Laki-laki biasanya suka membosankan saya, dan sering saya merasa bahwa sikap mereka palsu semata-mata. Sebentar saja mulai beromong, mereka sudah mulai mencoba merayu saya dengan mengatakan bahwa saya cantik dan ini-itu lainnya.

Lain dari Mas Har. Mas Har selalu kelihatan biasa sekali. Malahan ia tak pernah menyebut tentang kecantikan saya. Ia tidak kelihatan berteriak kepada saya sebagai “seorang wanita pujaan”, sebagaimana buaya-buaya telah berkata tentang saya. la tertarik kepada saya, tampaknya, sebagaimana ia tertarik kepada temannya atau adiknya. la tak pernah mencoba-coba menyinggung badan saya sebagaimana halnya laki-laki yang lain. Hal itu telah menyebabkan saya lebih berani untuk bersikap bebas kepadanya. Dengan ikhlas saya mendekat dan membukakan kepribadian kepadanya.

Setelah saya sembuh, saya masih membolos dari sekolah sehari karena badan saya masih belum kuat betul. Saat itu saya baru tahu kalau ia pun sedang sakit. Ibu berkata begitu. Saya menengok ke kamarnya.

Kamarnya ialah garasi. Ketika saya datang, dengan langsung saya menengok ke dalam dari pintunya yang setengah terbuka. Saya lihat ia sedang berselimut rapat sambil mukanya kelihatan kesakitan. Saya langsung berkata, “Kau sedang sakit, ya?”

Tiba-tiba ia bangkit dari tidurnya dengan malu-malu.

“Aha, Putri Abu datang. Belum lagi mandi sudah datang. Wah, baunya.”

la selalu mengejek dan kelihatannya tak pernah bersungguh-sungguh.

“Mas Har sakit, ya?”

“Ini penyakit yang biasa. Malaria. Sudah sejak umur dua puluh saya kena malaria sebagai akibat kurang tidur. Kau tahu, pelukis suka kerja sampai malam.”

Pagi itu saya menjadi lebih tahu tentang dirinya. Saya sekarang tahu bahwa ia orang yang bercita-cita. Ia mempunyai tujuan dan cita-cita yang bagus tentang kesenian. la seorang yang bekerja keras untuk cita-citanya. Teguh mengabdi pada cita-cita itu, dan pantang diundurkan. Kecuali itu, saya lalu tahu juga, bahwa ia mempunyai badan yang lemah serta sakit-sakitan.

Apabila timbul malarianya, ia suka muntah dan sakit segenap tulang-tulangnya. la khawatir kalau terlalu sering badannya diserang panas yang tinggi, penglihatannya lalu menjadi berkunang.

Baginya penglihatan sangat penting artinya, sebab ia pelukis. Kalau perutnya kemasukan makanan yang terlalu dingin atau terlalu keras maka segera ia merasa akan muntah-muntah dan biasanya penyakitnya lalu datang lagi. Semuanya itu akibat ia sangat kuat bekerja. Pernah juga ia disuruh istirahat oleh dokter karena paru-parunya berkapur. Setelah satu setengah bulan ia beristirahat, barulah ia dinyatakan sehat.

Malam itu, menjelang tidur, saya banyak berpikir tentang penyakitnya. Saya merasa kasihan kepadanya. Orang yang baik seperti itu tidak pantas disiksa dengan penyakit yang kronis. Saya bayangkan ia sakit sendirian di kota lain dengan tak ada orang yang menolongnya. Saya melelehkan air mata.

Mulai saat itu, saya selalu memperhatikan makanannya. Ibu saya beri tahu bahwa ia tak boleh diberi sembarang makanan. Tiap pagi ia mesti disuruh minum kecap sesendok makan. Lagi pula minumnya mesti selalu hangat.

Pada hari berikutnya, waktu saya pulang dari sekolah, saya langsung menuju ke garasinya. la baru saja selesai melukis. Lukisan yang telah selesai itu dinamakannya BUNDA.

la ceritakan kepada saya bahwa bundanya telah lama meninggal. Ia sekarang sebatang kara di dunia ini tanpa sanak tanpa saudara. Tentang gambarnya itu ia berkata:

“Lihatlah bagaimana matanya. Begitulah mata seorang ibu. Matanya memancarkan cahaya lembut bantalan. Tak ada orang yang paling berjasa kepada manusia seperti seorang ibu. Betapa banyaknya ia harus menderita dan berkorban untuk setiap manusia baru yang dia lahirkan, mulai dari kandungan, sampai membesarkannya, dan bahkan ada yang sampai ikut menguburkannya. Lihatlah warna-warna latar belakangnya. Semuanya serba tenang dan dalam. ltulah lambang jiwa wanita yang telah masak oleh pengalaman penderitaan. Mulutnya sangat sabar dan penuh pengertian. Wajahnya penuh dengan kerut-merut kedewasaan. Kenangan akan ibu saya banyak memengaruhi lukisan saya ini. Wanita! Wanita adalah kesucian. Adalah kesuburan. Adalah rahmat.”

Saya senang mendengar caranya berbicara dan menerangkan sesuatu. Kelihatan penuh pengertian, banyak menimbang, serta bijaksana. Malam itu saya tidur dengan mengenangkan lukisannya. Sekarang saya makin mengerti, apakah arti melukis itu baginya. Baginya, melukis adalah berhadapan dengan kehidupan.

Senang pula saya mengenangkan bagaimana caranya ia mengucapkan kata-kata, “Wanita adalah kesucian, adalah kesuburan, adalah rahmat!” Saya mengagumi caranya menghormati wanita. Saya tidak menyangka kalau di balik kekasarannya terdapat kelembutan dan keindahan. Betapa bagusnya ia mengemukakan pendapat tentang ibu dan tentang pengorbanan.

Akhirnya, saya pun menitikkan air mata karena mengenangkan bagaimana malang nasib hidupnya karena sudah sebatang kara. Sebelum berteman dengan saya, kalau sakit siapa merawatnya? Saya bayangkan ia menderita karena kesepian di dalam kamarnya.

Perhubungan kami semakin akrab. Saya makin yakin bahwa ia sama sekali tidak berbahaya. Ia tidak pernah mencoba merayu saya ataupun menunjukkan gairah-gairah yang lain. Ia semata-mata teman yang sangat saya sayangi. Di sekolah, saya sering melamunkannya. Kalau lama tidak berjumpa saya jadi kangen. Pada hakikatnya, caranya bersikap kepada saya seperti halnya kakak terhadap adiknya.

Pernah pada waktu libur panjang, saya diminta untuk dilukisnya. Sambil melukis, ia banyak bercerita tentang pengalaman-pengalamannya. la telah banyak melawat ke pelbagai negeri. Ia ceritakan dengan lucu bagaimana ia pernah kehabisan uang dan tersesat di Kota Paris, bagaimana ia belajar main ski di Swiss, dan bagaimana ia ditipu orang di Italia. Pengalamannya dan pengetahuannya sangat banyak.

Saya menggelarinya Sinbad. la tahu segala cerita-cerita yang menarik. Kadang-kadang ceritanya sangat lucu. Kadang-kadang ajaib. Dan, kadang-kadang mengharukan. la pandai memilih suasana. Ia menasihati saya dengan cerita-cerita yang mengharukan. Ia menghibur saya dari kesedihan dengan cerita-cerita yang lucu. Ia bercerita dengan sederhana dan gaya yang tampan. Suaranya seperti gesekan cello.

Kalau ia sedang asyik melukis saya tanpa bicara, saya perhatikan ia. Tingginya sedang. Badannya memang mempunyai suasana lemah, tetapi kalau sudah cukup lama diperhatikan, lama-lama tampak bahwa ia tidak kurus, tetapi semampai. Caranya berpakaian memang kasar dan kotor, tetapi bukankah di balik itu tertanam kelembutan? Mulutnya manis. Matanya bijaksana dan romantis. Saya senang mendengar mulutnya itu menceritakan perasaan-perasaannya. Saya senang melihat caranya memandang dan bersikap. Saya anggap ia adalah lelaki yang indah. Cuma sayang, ia tak mau mencukur kumis dan cambangnya.

Pernah ibu menyuruhnya mengantar saya ke sebuah pesta. Dan, pernah pula, saya memintanya untuk mengantarkan ke bioskop. Saya merasa aman bepergian dengannya. la selalu bersikap melindungi dan memikirkan kepentingan saya dengan gaya seorang lelaki yang terhormat. la betul-betul simpatik. Saya ingin pergi nonton lagi bersamanya, tetapi ia tak pernah mengajak dan saya malu untuk mengajaknya lagi.

Suatu kali, ia tidak pulang selama lima hari. Saya ribut-ribut mengurus hal itu. Saya tak tahu ke mana perginya. Ibu pun tidak diberinya tahu. Namun, ibu berkata kepada saya, bahwa tak ada gunanya saya ribut, sebab, toh, ia akan kembali.

Lagi pula, sebelumnya ia, toh, mempunyai kebiasaan begitu juga. Saya lalu ingat bahwa memang demikianlah halnya. Namun, entah tak tahu mengapa, waktu ia pulang, saya marah juga kepadanya. Saya bersikap dingin dan bahkan akhirnya saya tak mau omong dengan dia. Saya tahu bahwa dia gelisah karenanya. Kemudian pada waktu saya sedang duduk membaca koran, ia datang dan bertanya.

“Ayolah, sekarang kita saling berterus terang, Sinbad harus mengerjakan apa supaya Putri Abu tidak marah?”

Saya merasa malu oleh pertanyaannya itu. Akhirnya, kemarahan saya lenyap karena ia lalu tiada henti-hentinya bercerita tentang hal-hal yang lucu-lucu, sambil ia katakan bahwa selama lima hari tak pulang itu, ia pergi membuat sketsa ke luar kota. Kemudian saya menyindirkan kepadanya, supaya kali lain kalau tidak pulang memberi tahu ke mana perginya.

Selang seminggu kemudian, ia berkata kepada kami, bahwa ia tidak akan pulang untuk beberapa hari, untuk membuat sketsa penangkapan ikan di laut. Saya merasa sangat kangen selama kepergiannya itu. Akhirnya, saya merasa jengkel setelah ternyata satu minggu dia belum pulang-pulang juga. Pada hari yang ke sembilan ia baru pulang dengan muka pucat dan penyakit yang berjangkit lagi. Ia mengeluh kepada saya.

“Wah, jahanam betul nyamuk-nyamuk pantai itu.”

Akan tetapi, saya menjawab dengan pendek, “Salahmu sendiri.”

Entah saya tak mengerti kenapa, tetapi saya merasa gemas, bahwa ia begitu lalai menjaga dirinya. Saya kembali marah kepadanya seperti dulu lagi. Akhirnya, pada suatu hari ia memanggil saya untuk datang ke garasinya dengan cara yang sukar dibantah. Saya disuruhnya duduk di sebuah kursi dan ia sendiri duduk di dipan yang agak jauh letaknya. Sakitnya belum sembuh betul. la mulai bertanya, “Kenapa kau marah?”

Saya merasa malu sekali. Saya akan bangkit pergi, tetapi ia berkata:

“Marilah kita bicarakan dulu hal ini secara terus terang sampai selesai betul. Saya telah berpikir dalam-dalam, dan saya telah tahu sebabnya.”

Saya tetap menunduk, sambil tak tahu apa yang akan saya kerjakan.

“Maharani,” katanya dengan suara seperti cello, “Kita berdua saling jatuh cinta.”

Jantung saya merasa akan pecah. Seluruh tubuh saya menjadi lemah.

“Bagi gadis muda seperti kau, jatuh cinta itu rasanya gemuruh dan membingungkan, kau harus tenang. Harus banyak kau renungkan dengan sabar bagaimanakah cintamu itu. Saya lelaki yang banyak pengalaman. Saya tahu betul bahwa cinta saya telah kau miliki dengan mutlak. Namun, kau lain halnya. Kau masih harus menyadarinya benar-benar dahulu. Maharani, kau sangat menderita. Kau harus berpikir tenang.”

Saya tidak bisa berkutik dan bersuara. Saya telah menyerah sama sekali kepadanya.

“Baiklah, Jadi sekarang bagi kita sudah bukan rahasia lagi, bahwa kita telah saling jatuh cinta. Namun, marilah kita tidak tergesa-gesa. Renungkanlah dahulu siapa saya. Bagaimana masa depanmu apabila jadi dengan saya. Marilah kita agak tenang dalam hal cinta. Sebab cinta itu bunga yang indah. Cinta adalah anugerah surgawi yang suci. Sekarang pulanglah dulu.” `

Saya merasa lemas dan tanpa daya. la bangkit dan menghampiri saya. Dibangkitkannya saya dari tempat duduk.

“Pulanglah dulu,” katanya.

Akan tetapi, saya sudah terlampau tak berdaya. Tiba-tiba ia membungkuk dan mencium pipi saya. Sempurnalah sekarang kekalahan saya. Saya roboh ke dadanya. la memeluk tubuh saya erat-erat. Saya hampir pingsan ketika merasakan badan saya dirapatkan ke badannya. Badan saya serasa telah lebur menjadi satu dengan badannya. Ditengadahkannya muka saya dari dadanya. Lalu, terasalah bagaimana wajahnya mendekati wajah saya. Napasnya terasa hangat dan memabukkan. Akhirnya, diciumnyalah mulut saya penuh-penuh dengan mulutnya. Saya hampir-hampir tiada sadar akan diri saya.

Semuanya terjadi dengan gairah yang jujur dan suci. Semuanya merupakan kenang-kenangan yang indah yang tak akan saya lupakan. Siapa akan menyangka, bahwa lima hari kemudian panasnya memuncak dan tibatiba menutupkan matanya untuk selama-lamanya.

Kakak tersayang, setelah kau membaca surat saya ini, barangkali kau akan jadi mengerti segala latar belakang dari sikap saya terhadap semua lamaran-lamaran yang saya tolak itu. Bagaimanakah saya bisa disebutkan telah menyia-nyiakan umur muda.? Umur muda saya telah saya pergunakan dengan sebaik-baiknya. Mas Har telah memberikan pada saya bunga umur muda yang tak akan layu. Bagaimanakah saya bisa disebut telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mengecap kenikmatan hidup? Saya telah merasai ciuman dan pelukan Mas Har sebagai kenikmatan hidup yang tak akan terlupakan. Saya sudah cukup puas dengan itu. Saya tak lagi menghendaki yang lain. Dan akhirnya, saya juga tak bisa dikatakan telah merusak hidup saya sendiri. Sebab, sekarang ini saya tetap merasakan tenteram dan puas.

Berbeda dengan yang lain bukanlah berarti menderita. Saya taktahu bagaimana biasanya pada orang lain. Namun, saya telah cukup puas dengan ketenteraman saya yang sekarang. Percintaan saya yang sekali dalam hidup saya itu diliputi oleh kesucian dan keindahan. Tanpa ada bau kecabulan. Saya tak ingin merusak kenangan yang indah ini dengan perkawinan bersama orang lain. Saya ingin bisa berkata, “Saya telah pernah pula jatuh cinta. Percintaan itu suci, indah, nikmat, dan tak pernah bernoda.”

Dengan demikian puaslah sudah hati saya.

Demikianlah bunyi nukilan surat adik saya.

WS RENDRA
Buku: Sudah Bertualang, N.V. Nusantara, 1963.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *