Karya Pramoedya Ananta Toer yang Melegenda

Karya Pramoedya Ananta Toer

SastraIndonesi.net – Satrawan kenamaan Indonesia, Pramoedya Ananta Toer lahir pada 1925.  Hampir satu dekade, Karya Pramoedya Ananta Toer masih dikenang, dibaca oleh pecinta sastra termasuk menjadi bahan ajar mata kuliah di perguruan tinggi.

Pramoedya Ananta Toer atau akrab disapa Pram kerap dicap sebagai sastrawan ‘kiri’, namun juga dianggap sebagai bapak realisme sosialis. Kesehariannya, Pram aktif di Lembaga Kebudayaan (Lekra).

Pram tergolong sukses dalam berkarya, lebih dari 50 karya sastranya dikonsumsi masyarakat Indonesia. Tak hanya itu, karyanya juga dinikmati masyarakat dunia, puluhan karyanya diterjemahkan ke dalam 41 bahasa.

Berikut Karya Pramoedya Ananta Toer:

1. Bumi Manusia
Novel ini merupakan seri pertama dari tetralogi Pulau Buru. Lewat tokoh bernama Minke, Pram menuliskan tentang ketidakadilan, patriarki dalam budaya Jawa, dan lain-lain. Cerita di dalam Bumi Manusia pun telah diadaptasi ke panggung teater oleh Happy Salma dan mendapatkan sambutan yang luar biasa.

2. Arus Balik
Arus Balik yang berlatarkan sejarah menjadi salah satu karya Pram yang digandrungi. Setebal 760 halaman, novel Pram itu menceritakan kejayaan nusantara di zamannya. Bagi pecinta sastra dan sejarah, novel ini menjadi salah satu bacaan wajib.

3. Gadis Pantai
Berkali-kali menulis soal ketidakadilan, Pram tetap menyuarakan persoalan kaum kecil dan tertindas. Sama halnya dalam novel Gadis Pantai, Pram ingin membongkar tradisi feodalisme yang ada dalam budaya Jawa.

Selain Novel, Pram juga banyak menulis cerpen, bahkan dia juga piawai dalam merangkai kata menjdai puisi. Ada beberapa puisi Pram yang dimuat di media cetak pada waktu dahulu yang masih bisa dibaca hingga saat ini, misalnya: puisi dengan judul “Kutukan Diri” yang pernah dimuat di Majalah Indonesia, Nomor 12 tahun II, Desember 1951, halaman 19.

Tak hanya di media cetak saja, Dalam karya Karya Pramoedya Ananta Toer tak jarang Pram menyelipkan beberapa puisi, seperti : “Puisi untuk Ayah” yang terdapat dalam karyanya ber judul Gadis Pantai Halaman 269.

Baca Juga: Chairil Anwar, Sastrawan Minang yang Mati Muda

 Mengkaji Watak AA Navis Lewat Cerpen Robohnya Surau Kami

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *