‘I Found You’

I Found You

Surat?. Surat dari siapa ini? Indah sekali, namun mengapa tak bertuan seperti ini.

Oh neputunus sudah lima belas kali aku menerima surat tak bertuan dan isinya selalu sama. “Selamat pagi peri, aku mencitaimu tunggu delapan hari lagi kau akan mengetahui siapa aku.” Setiap hari selalu seperti ini, hanya saja angka-angka itu selalu berkurang.

Sebenarnya aku penasaran, tapi aku juga takut jangan-jangan dia akan menjahatiku waktu bertemu. Ah sudahlah aku bingung, semua ini membuatku berfikir keras dan tak tau harus bagaimana, hendak mandipun rasanya dihantui rasa ingin tahu.

Hari demi hari kulewati dengan rasa penasaran sampai ahirnya di hari terahir dia mengirim surat misteri itu. Hari ini kita akan bertemu, temui aku di taman dekat sekolah pukul 12 siang sampai bertemu manisku aku mencintaimu.

sudah harinya, tapi aku masih saja ragu, aku masih berfikir temui atau tidak, dan akupun mendiskusikan dengan temanku.

“Temui tidak?”

“Temui jangan biarkan kamu dihantui rasa penasaran.”

“Hmmm baiklah,kawani ya!”

“Jangan sendiri saja,nanti dia enggak muncul lagi karena ada aku.”

“Baiklah.”

Akupun menuruti saran temanku untuk menemuinya sendiri, ya sendiri begitu beraninya aku entah bagaimana aku bisa seperti ini, mungkin karena keingin tahuanku yang cukup besar bisa membuat nyaliku sebesar ini.

Kringgggggg. Bel istirahat berbunyi, aku langsung saja ke taman yang dimaksud. Ku cari ke kanan ke kiri tak kulihat dirinya sama sekali. Aku berputar-putar dua kali, tak ku temui jua dia. Ah sial harusnya aku tak membuang waktuku dengan sia-sia, harusnya aku berada di perpustakaan untuk membaca buku, atau di kantin menikmati makan siangku ya satu kata untuk siang ini kecewa.

Sial sekali aku sudah lelah ke sini meninggalkan ekspetasiku saat beristirahat dan ternyata dia tak juga menampakan diri. Kesel, kecewa, capek hingga jadilah bad mood.

“Eitss, tapi mengapa aku sekecewa ini dia siapaku?, dan mengapa aku memikirkan dia sebegitu dalamnya padahal bertemu saja belum ah” otakku bercengkrama.

Sudahlah, masa bodo untuk hari ini lebih baik aku ke kantin sebelum ahirnya fisika melambaikan tangan untuk diikuti hingga muak.

“Gimana neng udah ketemu?” tanya temanku dengan penuh antusias tinggi.

“Noting.” jawabku datar.

Belum banyak bercerita, guru fisika kami sudah masuk. Aku yang banyak melamun hari itu tentu saja selalu menjadi sasaran empuk guruku.

“Ya kamu yang dikucir satu, jadi jawabannya berapa?”

“16 bu.” jawabku asal-asalan dan beruntung jawabannya tepat, luar biasa aku memuji diriku kala itu, sepertinya dewi Fortun sedikit demi sedikit memihakku di pelajaran yang bikin enek setengah mati.

Kringggggg. Bel berbunyi dan yah beruntung sekali aku tak jadi mengerjakan soal yang begitu rumit dan butuh berfikir seribukali. Wewehhh hiperbola sekali diriku, yap inilah aku juara kelas yang tak patut dicontoh mengerjakan tugas jika mood, memperhatikan pelajaran jika ingin dan masih suka memilih-milih pelajaran, ya tapi aku yakin dari sekian siswa di kelasku tidak semuanya menyukai pelajaran yang disajikan nyatanya kemarin Vino dihukum oleh guru matematikaku karena menjawab soal ulangan. “Bu berat bu, saya bingung rumus, saya tidak tau cara mengerjakannya dan saya malas belajar.” ya begitulah Vino. Dia begitu membenci matematika, tapi mencintai fisika sungguh berbanding terbalik dengan diriku yang begitu mencintai matematika dan membenci fisika, nb: jangan ditiru yang gengss ini sungguh salah, sungguh tak patut di contoh.

Terlepas dari pelajaran yang telah kulewati kini aku bersama teman-teman ekstra musik sedang berada di café, bukan dalam rangka ingin membolos ekstra tapi ingin memberi kejutan untuk coach kami karena hari ini beliau sedang berulang tahun jadi kami berniat akan membelikannya roti rainbow dan es kopi anget eh canda maksudnya kopi greean tea ga kebayang kan rasanya?, masa bodo asalkan bapak bahagia kami bahagia koq pak.

Setelah selesai memesan kami pun membayarnya dan langsung bergegeas ke ruang ekstra sebelum ahirnya kami kena hukuman lari sepuluh kali, yaaap beliau emang disiplin sungguh disiplin dan akupun pernah satu kali terkena hukuman karena lupa kalao hari itu ada ekstra , bandel ya aku emang begini dari sononya cuy.

“Syut syut sembunyi cuy.” temanku mengintruksi, kamipun bersembunyi di bawah meja.

“Koq sepi ini kemana ini, saya sudah telat kalian juga telat?” ucap coach kami waktu itu, karena tak tahan menahan tawa aku dan kawanku langsung muncul dari permukaan bawah tanah eitss kan hiperbola lagi maksudnya dari meja.

“Yah cocah jangan marah kami dari tadi sudah disini nunggu cocach yakan gengsss,” teriakku memeberi aba-aba dan surprise hari itu bisa dikatakan lancar.

Pelatih kami memberikan senyum yang sangat tulus dan tidak lupa juga kami menaggih untuk makan-makan, itu sudah tradisi bukan?, jika ada yang berulang taun pasti selalu saja minta makan-makan tanpa memberi kado pula, tapi enggak koq kami tidak seperti itu kami memberikan kado pada coach kami yakin sebuah piala kemenangan kami, dalam mengikuti lomba band antar sma tanpa sepengetahuan coach kami hehe, yang ini boleh di contoh gengs berbohong demi kejutan eh jangan deh eh terserah pokoknya kami puas hari ini.

“Baik terimakasih anak-anakku, mari kita latihan.”
“Makan-makannya kapan coach?” teriak temanku.
“Nanti, sehabis ini kita latihan dulu.”
“Hmmm oke coach.” teriakku.

Kamipun berlatih dengan serius, supaya cepat makan-makan eh enggak supaya bisa memenangkan lomba festival pelajar yang aka dilaksanakan satu minggu lagi.

“Latian hari ini cukup.”

“Baik coach.”

Kamipun membentuk formasi u lantas meneriakan yel-yel kebanggan kami, dan yaaah tiba-tiba ada anak kelas sepuluh yang memanggilku memberikan surat, iya surat yang khas surat dari orang tidak jelas yang memeberiku janji palsu di hari ini, kubuka perlahan dan yaaah.

Maafkan aku peri, aku tak bisa menemuimu hari ini sebab aku ada urusan yang tidak bisa kutinggalkan aku yakin satu minggu lagi kita akan bertemu, yelah males banget si kemarin delapan hari lagi sekarang satu minggu lagi lama-lama satu abad lagi samapi aku lulus sma kali ya.

Aku cukup memaklumi, tapi bukan berarti aku memberi toleransi tapi sudahlah biarkan saja dia mengirim surat terus-menerus sampai bosan toh juga dia tidak menerorku dengan ancaman-ancaman mungkin benar kata coach dia penggemar rahasiaku, entahlah sejauh ini aku belum pernah merasa di sukai diam-diam dan dibuat pusing seperti ini karena rasa penasaran

“Dapet lagi?”

“Iya, penasaran tapi males nyari cocah.”

“Biarin aja lama-kelamaan juga capek.”

“Iya sih”

“Ya udah ayok keburu malam.”

“Siappp.”

Kami bergegas menuju café favorit kami yang terletak 100m dari sekolah kami, seperti biasa aku memesan es krim lengkap dengan roti bakar coklat keju, tak menunggu lama pesanan kamipun sudah sampai, selain tak terlalu banyak yang kami pesan cafepun cukup sepi karena memang sudah cukup malam.

“Oke all, terimakasih untuk hari ini semoga tuhan mengabulkan doa kalian semoga usia coach semakin berkah, semangat untuk persiapan lomba minggu depan jangan patah semangat yakin tuhan punya rencana baik untuk hamba-hambanya yang bekerja keras, satu teriakan untuk hari ini.

“GOOD LUCKKKK”

“GOOD LUCKK” kami begitu bahagia hari ini senyum lepas, hati bahagia dan jiwapun tak terasa ikut semangat semesta bepihak pada kita hari ini semoga seterusnya kami tetap hangat seperti ini aamin.

Jumat bulan tiga tahun dua ribu lima belas, lagi dan lagi kutemukan sepucuk surat di laci tempat dimana aku duduk, tak bosan-bosannya dia mengirimkan surat untukku sepertinya, eh tapi lihatlah kini warna surat itu berubah kemarin merah sekarang biru dan isi surat itu kini juga berubah, pagi peri kau pasti bingung mengapa warna surat ini berbeda kau harus tau hari ini aku bersedih sebab salah satu temanmu berkata bahwa kau kecewa padaku karena ketidak hadiranku kemarin, maafkan aku peri ini kuberikan bekal untukmu semoga kau suka oh iya jika kau maafkan aku tulis jawabanmu dibawah sini ya supaya besok aku menggantikannya dengan warna merah lagi, seperti warna pita favoritmu hehehe wehhh bentar temenku, berarti salah satu anak kelas ini ada yang tau, apa anak musik? atau janga-jangan cella anak kelas sepuluh yang memberiku surat kemarin. Ah ini anak ngajak berantem nih ngasih clue setengah-setengah ah tapi masa bodo eh tapi siapa ? entah lah geram kali aku tak menemukan jawab palah menambah tanya oh neptunus bantu aku, tapi bekalnya lumanayan juga si roti tawar coklat tau aja aku belum sarapan dan mau tidak mau aku menuliskan, aku memaafkanmu cepat temui aku atau aku akan merobek semua surat darimu.

Seperti biasa hari ini aku tidak fokus, karena memikirkan si pengirim surat itu sampai-sampai aku ditegur guru bahasaku karena tidak memperhatikan saat dia memberi penjelasan, oh tuhan kembalikan aku yang dulu.

“Eh kamu kenapa si?”

“ini.” aku memberikan surat-surat misteius itu kepada Vino.

“Hmm dia anak kelas sepuluh paling yang suka sama kamu.”

“Siapa?. Kamu tau?”

“Depannya I, tunggu aja besok dia ke sini.”

“Besok libur bego.”

“Ya tunggu aja pinter.”

Yash. Vino emang paling ngerti tentang aku, tapi jangan dikira kita akrab tiap hari kita selalu berantem rebutan minuman atau makanan, yang dibeli temen-temen ya kita ma apa ya modal otak aja ga pernah modal bawa jajan makanya aku paling inget kalao ada yang ulang taun jangan ditiru model-model seperti ini yak nak tak baik, hari demi hari sudah kulewati dan ahirnya aku mengetahui siapa yang mengirimkanku surat, mengamatiku setiap hari serta selalu memikirkanku apabila aku marah atau kecewa dia adalah iksan putra permana adek kelasku, pasti kalian berfikir bagaimana bisa dia mengenalku?

Biar aku jelaskan setelah tiga puluh kali dia mengirim surat dan empat kali dia memberi bunga dan dua kali dia memberi aku bekal, ahirnya di awal bulan april dia menampakan dirinya dia menemuiku di taman yang ia maksud, taman yang pernah membuatku kecewa dia menemuiku bukan hanya sekedar menemui tapi dia menyiapkan bunga,coklat,gitar dan beberapa lukisan diriku serta membacakan puisi karya terbaiknya maybe , dan dia menyatakan seluruh perasaanya padaku begini ujarnya.

“Aku mengamatimu sudah lama, sedari aku masuk di sekolah ini.”

Sedari kau menjadi pembimbing kelas kami dan aku mencintamu sejak lama hanya saja aku takut kau tak menyukaiku, karena kau ingat? aku pernah membuatmu terluka waktu itu, aku pernah membuatmu menangis karena aku begitu nakal, begitu sulit di atur asal kamu tau.

Itu semua karena aku ingin medapatkan perhatianmu, karena matamu rambutmu senyumu adan hatimu sealu buatku nyaman, jadilah kekasihku apakah kau mau?’

Aku jujur tertegun,aku juga bingung iksan dia memang selalu buatku jengkel mulai dari terlamabat masuk kelas, makan tak habis ,buang sampah sembarangan bahkan dia berani menjadi hantu waktu acara pramuka oh neptunus aku harus menjawab apa?

“Terima aja kali” teriak Vino.

Yah. Ternyata Vino jadi makjomblang aku sama Iksan selama ini wajar saja dia tau inisial dan lain sebagainya.

“Udah terima kek.” ujarnya sekali lagi.

Aku semakin bingung, jauh sebelum dia melakukan aksi aneh jujur aku sudah mencintai dia dan kini dia berusaha keras untuk mendapatkanku, aku harus bagaimana?

“Kak gimana?. Mau kan?” dia berlutut dihadapanku sembari memeberi greean tea kesukaanku, aku dengan lantangnya mengatakan.

“Iya aku mau.”

Siang itu, tepat awal bulan april aku dan dia resmi menjadi sepasang kekasih semoga semesta selalu berpihak pada cinta kita, semoga dan semoga lainnya aku mencintaimu san kuharap kau terus-menerus seperti ini mecintaiku berbeda dari yang lain.

Biodata penulis

Nama: zamira Jati Prananingtyas
Lahir: Dawet Ayu, 7 Desember 1998.

Follow up me on:
Instagram: @zaamirajprn
Blog: zamirajatiprnblosarde.blogspot.com
Facebook: Zamira Jati

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *