Geliat Puisi di Nusantara atau Pra-Indonesia

Geliat Puisi di Nusantara

Di Nusantara (Pra-Indonesia) puisi juga telah tumbuh dalam setiap masyrakat. Masing masing kebudayaan mempunyai tradisi puisi khas masing-masing. Sebutlah jawa dengan mantra, senandung, dan macapat.

Sedangkan di kebudayan melayu juga ada tradisi mantra, pantun, syair, dan sebagainya. Pada pra Indonesia, sebagai mana sebutkan di atas, puisi sangat dekat dengan religiusitas masyarakat.

Mantra, puisi tertua yang terdapat di dalam kesusastraan daerah di seluruh Indonesia. Kumpulan pilihan kata-kata yang dianggap gaib dan digunakan manusia untuk memohon sesuatu dari Tuhan. Sehingga mantra tidak hanya memiliki kekuatan kata melainkan juga kekuatan magis.

Melompat kita ke zaman awal Indonesia, kita mengenal zaman Balai Pustaka dan Pujangga Baru. Di era ini puisi sudah berkembang kedalam budaya tulis yang sudah kuat.

Pada angkatan Balai Pustaka penulisan puisi masih banyak dipengaruhi oleh puisi lama. Tema yang digarap dalam puisinya menggambarkan tema pertentangan paham antara kaum tua dan kaum muda.

Antara budaya lama dan budaya baru, soal pertentangan adat, soal kawin paksa, permaduan. Soal kebangsaan belum
mengemuka, masih bersifat kedaerahan. Gaya bahasanya masih menggunakan perumpamaan yang klise, pepatah, peribahasa. Puisi terikat pada bahasa hikayat sastra lama (Puisinya berupa syair dan pantun).

Kemudian maka pada angkatan Pujangga Baru diciptakan puisi baru, yang melepaskan ikatan-ikatan puisi lama. Hal ini ada faktor masuk budaya kolonial dari eropa. Sehingga munculnya jenis-jenis puisi baru.

Di antaranya, distichon (2 baris), tersina (3 baris), quartrin (4 baris), quint (5 baris), sextet (6 baris), septima (7 baris), oktaf (8 baris), soneta (14 baris). Angkatan ‘30-an ini merupakan angkatan yang berani menampilkan perubahan dari angkatan ‘20-an.

Perubahan ini tercermin dalam tema-tema yang diangkat tidak lagi terpengaruh oleh budaya dan adat masyarakat lama. Tokoh yang menonjol dalam angkatan ini antara lain, Armin Pane, Amir Hamzah, dan Sutan Takdir Alisyahbana.

Temanya tidak hanya tentang adat atau kawin paksa, tetapi mencakup masalah yang kompleks, seperti emansipasi wanita, kehidupan kaum intelek, dan sebagainya.

Bentuk puisinya adalah puisi bebas, mementingkan keindahan bahasa, dan mulai digemari bentuk baru yang disebut soneta, yaitu puisi dari Italia yang terdiri dari 14 baris. Aliran yang dianut adalah romantik idealisme, dan setting yang menonjol adalah masyarakat penjajahan.

Puisinya berbentuk puisi baru, bukan pantun dan syair lagi. Bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima. Konten puisi mulai mengekspresikan perasaan, pelukisan alam yang indah, dan
tentram.

Puisi baru dapat berupa Balada (puisi berisi kisah/cerita) Himne (pujaan untuk tuhan, tanah air, atau pahlawan), Ode (sanjungan untuk orang yang berjasa), Epigram (tuntunan/ajaran hidup) Romance (luapan perasaan cinta kasih), Elegi (ratap tangis/kesedihan) dan Satire (sindiran/kritik).

Penulis: Ilham Yusardi

Penulis Puisi di zaman Milenial

Baca juga Sejarah Puisi di Mekah: Sejarah Puisi di Masjidil Haram

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *