Deretan Pahlawan yang Berdarah Sastra

SastraIndonesia.net – Gelar Pahlawan Nasional tak melulu jatuh kepada tokoh pejuang revolusi fisik. Di antara segudang nama para pejuang, terselip sosok-sosok berlatar belakang pujangga.

Mereka merupakan dedengkot dunia sastra Indonesia sekaligus tokoh pergerakan. Abdoel Moeis, misalnya, selain giat menulis novel juga aktif bergerak di Sarekat Islam.

Penggubah novel Salah Asuhan tersebut bahkan masuk Volksraad mewakili Central Sarekat Islam (CSI). Lantaran jasa besarnya bagi bidang sastra dan pergerakan, para sastrawan terkemuka Indonesia bersepakat menetapkan tanggal kelahiran penerjemah novel Miguel de Cervantes, 3 Juli, sebagai Hari sastra Indonesia (HSI).

Pemilihan tersebut, menurut sasatrawan Taufiq Ismail pada pertemuan para sastrawan di Bukittinggi, Sumatra Barat, 2013 silam, didasarkan atas peran aktif Abdoel Moeis pada masa pergerakan nasional. “Selain itu Abdoel Moeis juga mempunya banyak karya sastra fenomenal,” katanya seperti dilansir Antara.

Selain Abdoel Moesi, masih ada beberap sosok lain berlatar pujangga berlabel Pahlawan Nasional. Penasaran? Simak ulasan 4 Pahlawan Nasional Berlatar Belakang Pujangga;

Abdoel Moeis

Abdoel Moeis atau Abdul Muis merupakan orang yang pertama kali ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh presiden Sukarno lewat Keppres No. 218 Tahun 1959. Beliau lahir pada 3 Juli 1883 di Sungai Puar, Sumatera Barat lalu meninggal dunia pada 17 Juni 1959 di Bandung, Jawa Barat.

Semasa hidupnya, selain dikenal sebagai tokoh politik Sarikat Islam, Abdul Muis juga seorang sastrawan. Novel “Salah Asuhan” yang diterbitkan Balai Pustaka pada 1928 menjadi bukti dari skill kesusastraannya. Maka tak heran jika para sastrawan menetapkan tanggal kelahirannya sebagai Hari Sastra Indonesia.

Buya Hamka

Pria bernama asli Abdul Malik Karim Amrullah ini ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional lewat Keppres No. 113/TK/2011. Pria yang lebih dikenal Hamka (nama pena) ini lahir di Nagari Sungai Batang, Sumatera Barat pada 17 Februari 1908 dan meninggal 24 Juli 1981.

Selain terlibat langsung dalam gerilya di hutan sekitar Medan, Buya Hamka dikenal juga sebagai orang yang memiliki pemikiran keagamaan, pendidikan modern Islam, dakwah, politik yang diterapkannya bagi kemajuan umat. Namun Hamka yang banya dikenal lewat karya sastranya berupa novel dengan judul “Di Bawah Lindungan Ka’bah” dan “Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”.

Mr. Muhammad Yamin, S.H.

Muhammad Yamin ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres No. 88/TK/1973. Ia lahir pada 24 Agustus 1903 di Talawi, Sumatera Barat lalu wafat pada 17 Oktober 1962 di Jakarta. Beliau terkenal setelah mempolopori Sumpah Pemuda pada tahun 1928.

Yamin memulai karir kepenulisannya dalam jurnal Jong Sumatera, sebuah jurnal berbahasa Belanda pada 1920. Dua tahun berselang, Yamin baru berani tampil di khalayak ramai sebagai penyair. Karyanya berjudul “Tanah Air” menjadi kumpulan puisi modern Melayu pertama yang pernah dipublikasi.

Koleksi kedua, “Tumpah Darahku” terbit pada 28 Oktober 1928, yang penting sebab saat itu beliau dan beberapa bapak pendiri bangsa memutuskan menghormati satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Tahun itu pula terbit drama beliau, “Ken Arok dan Ken Dedes”.

Tengku Amir Hamzah

Amir Hamzah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional lewat Keppres No. 106/TK/1975. Beliau lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Utara pada 28 Februari 1911. Ia merupakan keturunan bangsawan Melayu Kesultanan Langkat di Sumatera Utara.

Selama hayatnya, Amir Hamzah telah menulis 50 puisi, 18 buah puisi prosa dan beragam karya lainnya. Berkat karya-karyanya, Amir disebut sebagai “Raja Penyair Zaman Poedjangga Baroe” dan satu-satunya penyair tanah air berkelas internasional dari zaman pra-Revolusi Nasional Indonesia.

Sumber: merahputih.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *