Abdoel Moeis, Pahlawan Nasional Berjiwa Sastra

SastraIndonesia.net – Berbicara mengenai sejarah sastra di Indonesia pasti tidak akan asing dengan nama Abdoel Moeis. Lelaki kelahiran Sungai Puar, Agam, Sumatera Barat ini, selain terkenal dengan karyanya yang berjudul ‘Salah Asuhan’. Tanggal lahirnya juga dijadikan hari untuk memperingati Hari Sastra Indonesia.

Abdoel Moeis lahir pada 3 Juli 1883 dari keluarga yang cukup keras. Ayah Muis adalah seorang petinggi adat bernama Datuk Tumangguang Sutan Sulaiman yang menentang kebijakan Belanda di dataran tinggi Agam. Seperti kata pepatah, “Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” hal itu juga berlaku bagi Muis.

Sama persis dengan tabiat ayahnya, Abdoel Moeis sangat menentang kebijakan Belanda. Tercatat, pada tahun 1923 ia memimpin sebuah gerakan memprotes aturan landrentestelsel (Undang-Undang Pengawasan Tanah) yang akan diberlakukan oleh Belanda di Sumatra Barat. Protes tersebut berhasil. Landrentestelsel pun urung diberlakukan.

Abdoel Moeis di Dunia Sastra

Pada 24 Maret 2013, pertemuan sastrawan terkemuka Indonesia di Bukittinggi, Sumatra Barat, yang dihadiri wakil menteri pendidikan serta sejumlah tokoh nasional dan daerah, menetapkan 3 Juli sebagai Hari Sastra Indonesia. Tanggal itu diambil dari kelahiran Abdoel Moeis, wartawan, politisi, dan sastrawan.

“Pada awalnya kami mencari naskah sastrawan terkemuka yang diterima Balai Pustaka. Tapi tidak berhasil menemukan tanggal terbitan pertama Balai Pustaka sehingga akhirnya panitia kecil menetapkan tanggal lahir Abdoel Moeis sebagai Hari Sastra Indonesia,” kata penyair Taufiq Ismail, penggagas Hari Sastra Indonesia, dikutip dari republika.

Meskipun hari kelahirannya dijadikan untuk memperingati Hari Sastra Indonesia, Abdoel Moeis tergolong sastrawan yang kurang produktif karena hanya melahirkan 4 karya saja. Ia mulai menulis sastra pada tahun 1928 dengan karya legendanya berjudul ‘Salah Asuhan’ yang dibuat saat menjalani hukuman 13 tahun tidak boleh meninggalkan pulau Jawa.

Sukses dengan Salah Asuhannya, lima tahun berselang Abdoel Moeis atau Abdul Muis kembali lagi dengan karyanya dengan judul ‘ Pertemuan Jodoh’. Dengan tempo yang lumayan lama, Moeis mengeluarkan lagi karyanya dengan judul ‘Surapati’ pada tahun 1950. Penulisan Surapati ini cukup unik, ia menyajikannya dengan cara bersambung di harian Kaum Muda. Karya terakhir Moeis adalah ‘Robert Anak Surapati’ yang di terbitkan pada tahun 1953. (*)

Diambil dari berbagai sumber di dunia maya. Baca juga artikel terkait di: Chairil Anwar, Sastrawan Minang yang Mati Muda

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *